Menjemput Cerita Indonesia di Lereng Malabar

UDARA dingin Pangalengan menyambut setiap langkah yang memasuki Kampung Cinyiruan, Desa Pangalengan, Kabupaten Bandung.

Menjemput Cerita Indonesia di Lereng Malabar
ALTERNATIF LIBURAN: Seorang wisatawan mengunjungi miniatur Borobudur di Sabda Desa Edupark Kampung Cinyiruan, Desa Pangalengan. Kawasan wisata tersebut menjadi destinasi yang mulai dilirik keluarga sebagai alternatif menghabiskan akhir pekan.

Oleh:dani r nugraha

Kabut tipis sesekali turun dari lereng Gunung Malabar, sementara deretan pohon tua berdiri kokoh menaungi jalan setapak. Di tempat ini, suara burung dan tawa anak-anak terdengar lebih nyaring daripada dering gawai.

Sabda Desa Edupark menawarkan cara lain menikmati liburan keluarga. Bukan dengan wahana serba digital atau permainan berteknologi tinggi, melainkan melalui pengalaman sederhana yang perlahan mulai langka: bermain di alam terbuka sambil belajar mengenal Indonesia.

Begitu memasuki kawasan, hamparan rumput hijau dan pepohonan rindang langsung menghapus kesan penat dari perjalanan. Anak-anak berlarian tanpa dibatasi tembok beton, sementara orang tua duduk santai di saung-saung kayu, menikmati udara pegunungan yang sejuk. Sebagian keluarga memilih menggelar botram, membiarkan waktu berjalan pelan di tengah alam.

Namun, Sabda Desa Edupark bukan sekadar taman rekreasi. Di beberapa sudut kawasan berdiri miniatur Monumen Nasional (Monas), Candi Borobudur, hingga lintasan lalu lintas lengkap dengan rambu-rambu. Wahana-wahana itu sengaja dihadirkan agar anak-anak dapat mengenal sejarah, budaya, dan kehidupan bermasyarakat melalui cara yang menyenangkan.

Pengelola Sabda Desa Edupark Cinyiruan, Gatot Intan Permana, mengatakan konsep tersebut lahir dari keinginan menghadirkan wisata yang memberi nilai lebih bagi tumbuh kembang anak.

“Kami ingin menyediakan tempat wisata edukasi alternatif bernuansa luar ruangan yang sejuk dengan rindangnya pepohonan. Anak-anak bisa bermain sambil mengenal alam, sekaligus belajar sejarah, seni, dan budaya Indonesia,” ujar Intan kepada INILAH, Minggu (19/7).

Bagi anak-anak, belajar memang tak selalu harus dilakukan di dalam kelas. Di kawasan ini mereka dapat mencoba papan panjat tebing, bermain di kolam renang anak, hingga berkemah bersama keluarga di area camping ground. Setiap aktivitas menjadi ruang untuk melatih keberanian, kemandirian, sekaligus membangun kedekatan antarkeluarga.

Sementara itu, alam menjadi guru yang tak pernah kehabisan cerita. Di antara rimbunnya pepohonan tumbuh cemara, kibadak, pakis, dan berbagai vegetasi lain yang telah berusia puluhan bahkan ratusan tahun. Bagi anak-anak perkotaan yang akrab dengan layar ponsel, keberadaan pohon-pohon besar itu menjadi pengalaman baru yang sulit ditemukan dalam keseharian mereka.

“Selain tanaman teh, masih banyak jenis tanaman lain yang bisa dikenalkan kepada anak-anak. Kami ingin mereka tumbuh dengan rasa cinta terhadap alam sejak dini,” kata Intan.

Kesadaran itulah yang ingin dibangun pengelola. Bahwa wisata bukan hanya soal bersenang-senang, tetapi juga tentang membangun rasa ingin tahu, mengenal lingkungan, dan menumbuhkan kecintaan terhadap warisan bangsa.

Karena itu, Sabda Desa Edupark masih terus dikembangkan. Berbagai miniatur ikon nasional baru direncanakan hadir agar semakin banyak cerita tentang Indonesia yang bisa dipelajari anak-anak.

(gin)


Editor : Inilahkoran