Menjemput Harapan di Ujung Sampah

PERJALANAN sampah Kota Bandung akan segera berubah. Tak lagi berakhir di tempat pembuangan, tetapi menuju fasilitas pengolahan regional.

Menjemput Harapan di Ujung Sampah
TARGET SAMPAH: Aktivitas di TPA Sarimukti beberapa waktu lalu. Kini, Kota Bandung menargetkan sekitar 800 ton sampah per hari akan dikirim ke tempat pengolahan dan pemrosesan akhir sampah (TPPAS) Legok Nangka.

Oleh: Yogo Triastopo 

Tumpukan sampah yang setiap hari dihasilkan Kota Bandung perlahan mulai menemukan tujuan baru. Jika selama ini sebagian besar berakhir di TPA Sarimukti, beberapa tahun lagi alurnya akan berubah

Sampah tak lagi sekadar dibuang, melainkan dipilah, diangkut dengan armada khusus, lalu diolah di Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Legok Nangka.

Pemkot Bandung menargetkan sekitar 800 ton sampah per hari akan dikirim ke fasilitas pengolahan sampah regional tersebut ketika mulai beroperasi secara komersial pada 2029.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengatakan target operasional itu diperoleh setelah berkomunikasi dengan Pemerintah Jepang yang terlibat dalam pembangunan TPPAS Legok Nangka.

"Operasional komersial 2029. Tadi janji dari Pemerintah Jepangnya," kata Farhan, Kamis (30/7).

Bagi Kota Bandung, beroperasinya Legok Nangka bukan sekadar memindahkan lokasi pembuangan sampah. Pemerintah kota harus menyiapkan rangkaian sistem baru, mulai dari proses pemilahan hingga armada pengangkut yang sesuai dengan karakteristik medan menuju lokasi pengolahan.

Farhan menegaskan, komitmen tersebut sudah diwujudkan melalui pengadaan kendaraan pengangkut khusus yang proses penandatanganannya telah dilakukan. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan lahan untuk kegiatan pemilahan sampah.

"Pokoknya, Kota Bandung komitmen. Kita sudah komitmen untuk pengadaan mobil transportasi khusus. Itu sudah tanda tangan. Kita juga sudah menyiapkan lahan untuk pemilahan," ucapnya.

Menurutnya, seluruh sampah dari Kota Bandung harus melalui proses pemilahan sebelum diberangkatkan ke Legok Nangka. Tahapan itu menjadi bagian penting dalam sistem pengelolaan sampah regional yang akan diterapkan.

"Karena sampah yang dari Kota Bandung itu mesti dipilah dulu, baru kemudian bisa dibawa ke Legok Nangka dengan mobil khusus. Itu semua disediakan oleh Pemkot Bandung. Kita sudah tanda tangan komitmen itu," ujarnya.

Armada yang akan digunakan pun berbeda dengan kendaraan pengangkut sampah yang selama ini beroperasi. Jalur menuju Legok Nangka yang didominasi tanjakan dan turunan mengharuskan kendaraan memiliki kemampuan lebih baik.

"Kendaraannya beda. Jadi, satu, kendaraannya mesti yang memang kuat menanjak dan punya rem yang kuat. Karena naik, pasti menurun. Lalu muter balik dan menanjak lagi," jelas Farhan.

Perubahan sistem juga akan berdampak pada fungsi TPA Sarimukti. Ke depan, lokasi tersebut tidak lagi diproyeksikan sebagai tempat pembuangan akhir sampah campuran, melainkan difokuskan untuk mengolah sampah organik.

"Sarimukti akan dijadikan tempat pengolahan organik. Nanti setelah dipilah, organik akan dibawa ke Sarimukti untuk diolah," ujarnya.

Farhan menilai pengolahan sampah organik dapat memanfaatkan berbagai teknologi. Salah satu yang diusulkannya ialah gasifikasi metana dari timbunan sampah organik.

"Pengolahannya banyak teknologinya. Salah satu teknologi yang saya dorong, diusulkan adalah gasifikasi metan dari tumpukan sampah organik tersebut," katanya. (gin)


Editor : Inilahkoran