Menyusuri Jejak Religi di Garut
MAKAM, masjid, dan jejak sejarah menjadi daya tarik wisata religi Garut. Potensi itu kini dikemas dalam paket perjalanan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Jejak sejarah dan tradisi keagamaan tersebar di berbagai sudut Kabupaten Garut. Makam ulama, tokoh sejarah, masjid bersejarah, hingga kawasan yang lekat dengan tradisi Islam menjadi bagian dari potensi wisata religi yang terus dikembangkan.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Garut kini mengoptimalkan pemasaran wisata religi dengan menyiapkan paket perjalanan. Cara ini diharapkan dapat mendongkrak kunjungan wisatawan sekaligus membuat wisata religi tidak berdiri sendiri.
"Pendekatannya adalah membuat wisata religi tidak berdiri sendiri, tetapi dapat menjadi bagian dari paket perjalanan yang menggabungkan sejarah, budaya, kuliner, dan destinasi wisata lainnya di Garut," kata Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata pada Disparbud Kabupaten Garut, Aam Pathulloh di Garut, Rabu.
Potensi tersebut ditopang keberadaan sejumlah tempat yang memiliki nilai sejarah dan keagamaan. Di antaranya Makam Godog, Makam Syekh Jafar Sidiq di kawasan Gunung Haruman, Makam Pangeran Papak di Cinunuk, serta sejumlah makam ulama dan penyebar agama Islam lainnya.
Ada pula bangunan dan kawasan yang kuat dengan nilai sejarah Islam, seperti Masjid Agung Garut, Masjid Cipari, serta Makam Mbah Dalem Arif Muhammad di kawasan wisata Situ Cangkuang.
"Beberapa lokasi memang memiliki aktivitas ziarah yang cukup tinggi, terutama pada waktu-waktu tertentu seperti haul, hari besar keagamaan, dan momentum libur," katanya, seperti dikutip dari ANTARA.
Aktivitas ziarah yang telah tumbuh di sejumlah lokasi menjadi salah satu modal pengembangan wisata religi. Untuk memperluas jangkauan promosi, Disparbud memanfaatkan media sosial dan publikasi digital, sekaligus menyelenggarakan kegiatan budaya dan keagamaan.
Promosi juga tidak berjalan sendiri. Disparbud berkolaborasi dengan komunitas, pengelola destinasi wisata religi, tokoh masyarakat, dan pelaku usaha perjalanan wisata.
Di sisi lain, kenyamanan perjalanan menuju destinasi tetap menjadi perhatian, terutama terkait infrastruktur jalan. Namun, kewenangan pembangunan dan peningkatan infrastruktur tersebut berada pada instansi lain.
"Peran Disparbud lebih pada mendorong kebutuhan sektor pariwisata melalui koordinasi lintas perangkat daerah dan pengelola destinasi," katanya.
Garut memiliki cukup banyak titik yang masuk dalam daftar destinasi wisata religi. Di antaranya Makam KH. Hasan Arif, Makam Mundingwangi, Makam Rangga Bungsu, Makam Sunan Rumenggong, Makam Syeh Jafar Syidik, Makam Gunung Nagara, Makam Patilasan Guha Sancang, Makam Keramat Godog, dan Makam Karomah Cilame.
Daftar itu berlanjut dengan Makam Keramat Syekh Nahwu/Eyang Nahwu Nawawi, Makam Keramat Bungarungkup, Makam Kareo, Makam Arif Muhammad, Makam Dalem Cipeujeuh, Makam Dalem Kaum, Makam Pangeran Papak, Makam Batu Kuya, Makam Siti Munigar II, Makam Wangsa Kusumah II, Makam Batu Nungku II/Eyang Salinggih, Makam Sunan Cipancar, Makam Tumenggung Wangsareja, Makam Sunan Pangadegan, serta Makam Batu Nungku I/Indra Wilis.
Dari banyaknya destinasi tersebut, Makam Keramat Godog mencatat kunjungan paling tinggi pada 2025. Sebanyak 76.661 orang datang ke lokasi tersebut.
Setelahnya, Makam Pangeran Papak mencatat 30.998 kunjungan, sedangkan Makam Syeh Jafar Syidik dikunjungi 16.740 orang. Destinasi lainnya mencatat kunjungan mulai dari ratusan hingga ribuan orang. (gin)
Editor : Inilahkoran

