Merayakan Nyepi di Perantauan: Kisah I Made Wirawan, Asisten Pelatih Kiper Persib yang Tak Pulang ke Bali

Hari Raya Nyepi merupakan momen sakral bagi umat Hindu, terutama di Bali, di mana semua aktivitas dihentikan selama 24 jam untuk menjalani ritual penyucian diri.

Merayakan Nyepi di Perantauan: Kisah I Made Wirawan, Asisten Pelatih Kiper Persib yang Tak Pulang ke Bali
Merayakan Nyepi di Perantauan: Kisah I Made Wirawan, Asisten Pelatih Kiper Persib yang Tak Pulang ke Bali

INILAHKORAN, Bandung – Hari Raya Nyepi merupakan momen sakral bagi umat Hindu, terutama di Bali, di mana semua aktivitas dihentikan selama 24 jam untuk menjalani ritual penyucian diri.

Namun, bagi I Made Wirawan, Asisten Pelatih Kiper Persib Bandung, tahun ini ia harus merayakan Nyepi jauh dari kampung halamannya. Kompetisi yang masih berjalan membuatnya tak memiliki kesempatan untuk pulang ke Bali pada Sabtu, 29 Maret 2025.

Made mengungkapkan bahwa situasi seperti ini bukan pertama kali ia alami. Sebagai mantan penjaga gawang Persib yang kini menjadi bagian dari staf kepelatihan, ia sudah terbiasa menjalani Hari Raya Nyepi di perantauan karena jadwal kompetisi sepak bola yang padat.

"Sering terjadi, seperti tahun ini Hari Raya Nyepi bertepatan dengan kompetisi berjalan. Jadi, enggak ada waktu untuk pulang ke Bali," ujar Made dikutip dari laman resmi Persib.

Dalam perbincangannya, Made menjelaskan bahwa ada perbedaan yang cukup mencolok antara merayakan Nyepi di Bali dan di luar Bali.

Salah satu perbedaan utama adalah prosesi sebelum Hari Raya Nyepi. Di Bali, rangkaian perayaan ini cukup panjang, dimulai dengan berbagai ritual penyucian diri hingga pawai Ogoh-ogoh sehari sebelum Nyepi.

"Kalau di Bali, prosesi Nyepi itu panjang. Ada ritual Melasti, Mecaru, dan tentu saja Ogoh-ogoh. Itu bagian dari tradisi sebelum akhirnya semua orang menjalani Catur Brata Penyepian selama 24 jam," jelas Made.

Suasana saat Nyepi pun terasa sangat berbeda. Di Bali, semua aktivitas benar-benar berhenti, suasana menjadi sunyi dan tenang. Tidak ada kendaraan yang melintas, tidak ada lampu yang menyala di malam hari, dan semua orang menghormati momen hening ini.

"Di luar (rumah) tetap aktif, kalau di Bali semua nonaktif," tambahnya.

Meski tidak bisa merayakan Nyepi di Bali, Made tetap menjalani ritual ini dengan khidmat. Baginya, esensi dari Nyepi bukan hanya soal tempat, tetapi bagaimana menjalankan refleksi diri dengan sungguh-sungguh.

Sebagai seseorang yang memiliki komitmen tinggi terhadap profesinya, Made tetap menghormati kewajiban pekerjaannya di Persib sambil menjalankan keyakinannya.

Ia berharap, meskipun jauh dari Bali, dirinya tetap bisa merasakan kedamaian dan makna sejati dari Nyepi.***


Editor : Yosep Saepul Ramadan