Nerazzurri dan Lubang yang Menganga

MALAM di Stadion Olimpico hampir saja menjadi mimpi buruk yang sempurna bagi Inter Milan. Beruntung, mereka masih memiliki mental baja.

Nerazzurri dan Lubang yang Menganga
Net

Oleh: Bsafaat

Inter bertamu ke markas AS Roma, Minggu (20/9) dini hari WIB. Baru lima menit peluit babak pertama dibunyikan, gemuruh pendukung AS Roma sudah membakar atmosfer stadion.

Manu Kone menjadi momok menakutkan malam itu; dua kali ia memaksa Yann Sommer memungut bola dari jalanya, masing-masing di menit ke-5 dan ke-37.

Di paruh pertama, Nerazzurri tampak kehilangan taji, terduduk lesu di bawah dominasi serigala Ibu Kota yang membombardir mereka dengan 11 tembakan.

aat harapan fans Inter mulai mengikis, Lautaro Martinez hadir sebagai pemantik asa. Gol cepat sang kapten di awal babak kedua langsung mengubah segalanya.

Inter yang sempat terpuruk mendadak bangkit, bermain dengan hati, dan balik menekan tanpa henti. Ketegangan memuncak hingga akhirnya di menit ke-79, papan skor berubah menjadi 2-2.

Satu poin yang diraih dengan cucuran keringat ini memang berhasil mengamankan posisi Inter di tiga besar, namun laga ini meninggalkan luka lama yang kembali terbuka: rapuhnya lini pertahanan mereka.

Di balik senyum lega para pemain yang berhasil pulang membawa poin, ada kecemasan mendalam yang menggelayuti sang allenatore, Cristian Chivu.

Musim ini, benteng pertahanan Inter yang biasanya sekokoh karang justru rapuh layaknya kaca.

Dari lima laga, mereka baru sekali merasakan kesucian gawang (clean sheet). Delapan gol telah bersarang di gawang mereka—sebuah catatan merah yang menyamai memori kelam musim 2022/2023.

Lebih mengkhawatirkan lagi, ini adalah kali ketiga Inter membiarkan diri mereka tertinggal dua gol lebih dulu sebelum akhirnya bersusah payah mengejar.

“Kami harus lebih baik dalam memahami intensitas lawan,” ujar Chivu, menyuarakan keresahan sekaligus tuntutannya kepada anak asuhnya.

“Saya tidak meminta mereka tampil melewati batas, tapi setidaknya samai intensitas mereka.” Chivu tahu betul timnya sedang berjalan di atas tali tipis. Keberuntungan tidak akan selalu datang menyelamatkan mereka seperti saat menang dramatis atas Napoli dan Udinese.

Meski begitu, sang pelatih menolak untuk panik. Ia memilih memeluk optimisme dari daya juang anak asuhnya di babak kedua, sembari membawa pulang pekerjaan rumah yang menumpuk: membenahi tembok pertahanan Inter sebelum terlambat. (bsf )


Editor : Inilahkoran