Menjaga Arah di Tengah Riuh Politik

WACANA Pilpres 2029 mulai menyeret nama Dedi Mulyadi. Sang gubernur masih memilih fokus bekerja di Jawa Barat.

Menjaga Arah di Tengah Riuh Politik
MENYAPA WARGA: Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat menyapa warga beberapa waktu lalu. Namanya kini dirumorkan bakal berduet dengan Gibran Rakabuming Raka pada Pilpres 2029.(ILUSTRASI/ANTARA)

Nama Dedi Mulyadi belakangan mulai mengisi percakapan tentang peta politik menuju Pilpres 2029.Gubernur Jawa Barat itu disebutsebut dalam wacana duet dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, sementara namanya juga muncul dalam sejumlah simulasi calon presiden.

Namun, ketika wacana itu datang dari berbagai arah, Dedi justru memilih menjejak pada pekerjaan yang sedang berada di hadapannya. Dia menegaskan belum memiliki agenda politik menuju kontestasi nasional dan masih ingin berkonsentrasi mengurus Jawa Barat.

“Kita lagi mikir bagaimana jadi Gubernur yang sukses.

Tidak mikir yang lain,” tegas Dedi saat ditemui di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Selasa (22/9).

Pernyataan itu muncul di tengah sejumlah hasil survei yang menempatkan nama Dedi dalam simulasi Pilpres 2029.

Dalam survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dilakukan 5-19 Juli 2026, Dedi memperoleh 35 persen dalam simulasi semi-terbuka dengan 20 nama. Hasil tersebut dirilis pada 29 Juli 2026.

Dalam survei yang sama, Prabowo Subianto tercatat 14,5 persen, Anies Baswedan 8,2 persen, dan Gibran Rakabuming Raka 7,7 persen.Angka tersebut merupakan pilihan responden saat survei dilakukan, bukan hasil pemilihan yang akan berlangsung pada 2029.

Sementara survei Median yang mengambil data pada 21 Juli hingga 2 Agustus 2026 mencatat angka berbeda. Dalam simulasi semi-terbuka, Dedi memperoleh 20,6 persen, sedangkan dalam simulasi terbuka 19,8 persen. Pada simulasi semi-terbuka yang sama, Prabowo tercatat 32,4 persen.

Perbedaan angka itu menunjukkan, hasil survei sangat berkaitan dengan waktu pengumpulan data, metode, serta bentuk simulasi yang digunakan. Karena itu, angka dari satu survei tidak dengan sendirinya menggambarkan peta politik menuju 2029.

Di tengah angka-angka tersebut, nama Dedi kemudian disandingkan dengan Gibran. Wacana itu turut menjadi perhatian pengamat politik.

Pengamat Politik Universitas Islam Bandung (Unisba) Dr Muhammad E Fuady menilai kemunculan duet Dedi-Gibran belum menunjukkan adanya keseriusan politik untuk membentuk pasangan pada Pilpres 2029. Menurutnya, wacana tersebut lebih tepat dibaca sebagai upaya melempar isu sekaligus mengukur respons publik.

“Kalau menurut saya ya, muncul rumor KDM-Gibran itu kan setahu saya memang pernah dimunculkannya dalam event relawan Jokowi ya,” kata Fuady saat dihubungi INILAH, Selasa (22/9).

Menurut Fuady, hingga kini belum terlihat respons politik yang cukup serius untuk menindaklanjuti wacana tersebut.

“Tapi kan tidak ada kemudian respons yang lebih serius ya, atau menseriusi hal tersebut gitu. Jadi lebih tampak sebagai mungkin ya, testing the water (cek ombak), lempar wacana,” ujarnya.

Dia melihat popularitas Dedi dalam sejumlah survei membuat namanya mudah muncul ketika disandingkan dengan figur politik lain. Menurut Fuady, hal itu juga membuat Dedi mulai diperhitungkan dalam pembicaraan politik di tingkat nasional.

“Dan cuma kita memang harus melihat kenapa kok selalu yang muncul adalah nama KDM ya. Dan apabila disandingkan dengan sosok mana pun itu bisa meningkatkan elektabilitas. Jadi memang tampaknya beliau sudah menjadi sosok yang diperhitungkan secara nasional ya, atau bisa jadi bisa menjadi vote getter juga, bisa menjadi pendulang suara ya,” katanya.

Meski begitu, Fuady melihat ada faktor lain yang membuat wacana Dedi- Gibran tidak sederhana.

Salah satunya adalah posisi politik Dedi yang selama ini dinilai relatif dekat dengan Presiden Prabowo Subianto dan Partai Gerindra.

“Kalau melihat karakter KDM, menurut saya ya, dia tuh dalam beberapa tahun terakhir ini gitu ya, meski memang pernah ya berpindah dari Golkar gitu ya, tapi beliau relatif lebih konsisten dan loyal ya,” ujarnya.

“Lagipula kan tadi ya, ada hutang budi politik lah terhadap Pak Prabowo. Jadi tampaknya mustahil, tapi tapi gini, kalau politik ini sebenarnya tidak ada yang mustahil ya. Serbabisa, serba mungkin. Tapi tipis kemungkinannya gitu,” imbuhnya.

Namun, pandangan lain datang dari Pengamat Politik Universitas Padjadjaran (Unpad) Prof Caroline Paskarina.

Dia melihat kemunculan nama Dedi sebagai kandidat potensial tidak terlepas dari meningkatnya popularitas serta penilaian publik terhadap kinerjanya.

“Ya, ini saya rasa pencalonan KDM dengan Gibran ini kan tidak lepas ya dari dinamika politik saat ini. KDM popularitasnya itu kan sedang naik ya dalam beberapa survei. Juga namanya menunjukkan kecenderungan positif,” ujar Caroline.

Menurut Caroline, popularitas belum dapat menjadi satu-satunya dasar untuk menentukan pasangan calon. Konstelasi politik menuju 2029 masih panjang dan hasil survei masih mungkin berubah.

“Nah, jadi ini sebenarnya baru pada upaya untuk apa, memunculkan ya, nama-nama yang populer berdasarkan popularitas dan juga penilaian publik terhadap kinerjanya,” katanya.

Kemunculan duet Dedi- Gibran, menurut Caroline, juga dapat dibaca dalam konteks keberlanjutan pemerintahan saat ini. Gibran merupakan bagian dari pemerintahan nasional yang sedang berjalan, sementara Dedi dan Prabowo berada dalam partai yang sama.

“Nah, ini kan sebenarnya lebih pada menunjukkan bahwa sebenarnya ada loh figur lain, figur alternatif lain begitu yang bisa dimunculkan,” ujarnya.

Caroline bahkan melihat kemungkinan lain bahwa kemunculan nama tersebut dapat dibaca sebagai bentuk kritik terhadap jalannya pemerintahan saat ini.

“Jadi ini bisa jadi bentuk kritik juga ya terhadap kepemimpinan yang sekarang, gitu,” katanya.

Menurutnya, wacana tersebut juga menunjukkan, partai memiliki kader lain yang memiliki tingkat popularitas tinggi. Namun, dia menegaskan peta kandidat Pilpres 2029 masih sangat cair dan nama lain masih mungkin muncul dalam perkembangan politik berikutnya.

Sementara itu, perbedaan pernyataan Dedi mengenai Pilpres 2029 juga menjadi bagian dari perhatian.

Sebelumnya, Dedi menyatakan dukungan terhadap Prabowo untuk Pilpres 2029. Kini, dia memilih menegaskan fokus pada pekerjaannya sebagai Gubernur Jawa Barat.

Fuady menilai perbedaan pernyataan tersebut belum bisa langsung dimaknai sebagai perubahan sikap politik.

“Sebenarnya saya tidak melihat ada ini ya, ada pergeseran, cuma mungkin pada konteks itu yang ditanyakan saya tidak tahu ya konteks pertanyaannya seperti apa sehingga beliau menjawab masih mendukung Pak Prabowo, kemudian kalau sekarang jawabannya masih ini kan fokus Jawa Barat ya,” katanya.

Caroline juga melihat sikap tersebut masih berada dalam ruang yang wajar.

Mekanisme pencalonan presiden tetap bergantung pada keputusan partai politik, sementara konfigurasi politik hingga 2029 belum terbentuk.

“Ya, karena memang situasinya masih belum pasti ya. Artinya tidak ya tidak mungkin lah akan langsung bilang, karena mekanisme pencalonan itu tetap melalui partai politik,” jelasnya.

Menurut Caroline, namanama yang saat ini mulai diperbincangkan belum memiliki kepastian posisi politik. Dukungan partai dan konfigurasi pemerintahan masih dapat berubah.

“Saya rasa nama-nama yang sekarang digadanggadang itu masih apa, belum bisa memastikan posisi.

Karena dukungan dari partai politik juga belum jelas, kemudian periode pemerintahan juga saat ini kan masih di pertengahan ya. Jadi masih sangat mungkin lah terjadi perubahan situasi,” tuturnya.

Bagi Dedi sendiri, pembicaraan mengenai 2029 belum menjadi pekerjaan hari ini. Dia memilih kembali pada tugas sebagai gubernur dan meminta perhatian diarahkan pada pekerjaan yang sedang dijalankan.

“Pokoknya tidak ada, hari ini saya berfokus bekerja aja memberikan yang terbaik.

Kita belum mikir terlalu jauh,” ucapnya.

Ketika kembali ditanya mengenai kemungkinan maju dalam kontestasi nasional, Dedi menjawab dengan seloroh. “Mikir besok punya pacar atau tidak saja belum kepikiran,” pungkasnya.

(yuliantono/gin)


Editor : Inilahkoran