Niat Mendidik Anak, Malah Memicu Kebohongan: Mengapa Pola Asuh Keras Berdampak Buruk?
Banyak orang tua beranggapan bahwa bersikap keras dan menerapkan aturan tanpa kompromi adalah cara terbaik untuk melatih kedisiplinan serta kejujuran anak.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Banyak orang tua beranggapan bahwa bersikap keras dan menerapkan aturan tanpa kompromi adalah cara terbaik untuk melatih kedisiplinan serta kejujuran anak.
Namun, temuan ilmiah terbaru justru mengungkapkan fakta sebaliknya: pola asuh yang terlalu mengekang dan sarat hukuman fisik justru menjadi pemicu utama anak belajar berbohong dan curang.
Riset jangka panjang yang dilakukan tim peneliti dari Department of Psychology, National University of Singapore (NUS) menunjukkan bahwa authoritarian parenting (pola asuh otoriter) dan hukuman fisik yang keras berkolerasi kuat dengan meningkatnya ketidakjujuran pada anak sejak usia dini hingga sekolah dasar.
Riset dari National University of Singapore (NUS) mengungkapkan bahwa pola asuh yang terlalu ketat dan keras justru berdampak buruk bagi perkembangan moral anak. anak usia 4,5 tahun yang dibesarkan oleh ayah yang sangat menuntut tanpa memberi penjelasan terbukti lebih cenderung berbuat curang saat bermain ketika menginjak usia 6 tahun.
Tak hanya itu, penerapan hukuman fisik pada anak usia 7 tahun terbukti memicu perilaku bohong di usia 8 dan 9 tahun, yang pada akhirnya memancing reaksi hukuman lebih keras dari orang tua hingga menciptakan lingkaran setan.
Pada dasarnya, kebiasaan berbohong ini muncul bukan karena anak ingin membangkang, melainkan sebagai mekanisme pertahanan diri dari rasa takut berbuat salah, kritik diri yang berlebihan, serta tekanan untuk tampil sempurna demi mendapatkan pengakuan.
Cermin Bagi Realitas Pengasuhan di Indonesia
Di Indonesia, budaya pengasuhan yang menuntut kepatuhan mutlak serta penggunaan hukuman fisik atau verbal sebagai metode " pendisiplinan" masih cukup lazim dijumpai. Sebagian orang tua masih memegang teguh prinsip bahwa anak harus takut agar bisa diatur. Namun, temuan akademis ini menjadi peringatan keras bagi para orang tua di tanah air.
anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang keras dan sarat tekanan cenderung menginternalisasi keyakinan yang salah, seperti "Saya hanya akan disayangi jika tidak membuat kesalahan" atau "Saya harus selalu menang". Ketika mereka gagal atau berbuat salah, berbohong dan berbuat curang akhirnya menjadi jalan pintas untuk menghindari amarah orang tua serta menyembunyikan rasa tidak berdaya mereka.
Perilaku tidak jujur pada anak bukanlah sinyal untuk menambah porsi hukuman fisik, melainkan sinyal bahwa anak sedang tertekan secara psikologis. Sudah saatnya pendekatan pengasuhan di Indonesia bergeser dari rasa takut menuju pola komunikasi dua arah yang hangat, di mana anak diberi penjelasan logis atas sebuah aturan dan merasa aman untuk mengakui kesalahan tanpa takut dihakimi secara berlebihan.
Editor : Doni Ramdhani

