Ogah Gegabah, Kota Bandung Uji Mesin Pengolah Sampah Sebelum Disebar ke 151 Kelurahan

Pemkot Bandung tidak ingin terburu-buru memperluas penggunaan mesin pengolah sampah ke seluruh kelurahan.

Ogah Gegabah, Kota Bandung Uji Mesin Pengolah Sampah Sebelum Disebar ke 151 Kelurahan
Seorang petugas mengoperasikan mesin pengolah sampah yang mengubah sampah organik menjadi briket. (istimewa)

INILAHKORAN.ID - Pemkot Bandung tidak ingin terburu-buru memperluas penggunaan mesin pengolah sampah ke seluruh kelurahan. Satu unit mesin yang mengolah sampah menjadi briket, kini masih diuji di Kelurahan Padasuka.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, mesin itu merupakan bantuan dari Pemprov Jabar. Alat tersebut, memiliki kapasitas pengolahan sekitar tiga ton sampah per hari dan saat ini menjadi proyek percontohan sebelum diperluas ke lokasi lain.

“Di Kelurahan Padasuka, ada satu alat pengelolaan sampah mengubah sampah organik menjadi briket. Briketnya ini nanti akan kita jual ke pabrik-pabrik tahu,” kata Farhan, Jumat (28/8/2026).

Menurutnya, Pemkot Bandung memang telah menyiapkan rencana pengembangan alat pengolahan sampah di 20 titik sebagai tahap awal. Namun sebelum diperbanyak, kinerja mesin di Kelurahan Padasuka harus dipastikan terlebih dahulu.

“Kita coba dulu satu. Karena mesin sampah itu tidak seperti kita membeli alat elektronik, datang ke rumah, colok langsung hidup,” ucapnya.

Farhan menegaskan, mesin pengolah sampah merupakan perangkat industri yang membutuhkan pengujian menyeluruh. Pemerintah harus memastikan konstruksi, proses pengolahan hingga pengendalian polusi udara berjalan dengan baik sebelum alat tersebut diduplikasi.

“Karena ini adalah sebuah mesin industri, sekecil apa pun kita coba dulu. Pasang dulu, konstruksinya benar apa enggak, pengelolaan polusi udaranya sudah baik apa enggak. Makanya itu masih dalam tahap percobaan,” ujar dia.

Hasil evaluasi awal terhadap mesin di Padasuka, sebenarnya sudah tersedia. Namun Farhan menyebut, hasil itu belum menunjukkan kinerja yang konsisten sehingga masih diperlukan penyempurnaan sebelum pihaknya mengambil keputusan memperluas penggunaannya.

“Hasil evaluasi kan baru keluar kemarin. Itu sudah keluar, tapi masih belum konsisten. Sudah ada hasil, tapi belum konsisten. Maka akan ditingkatkan terus konsistensinya,” tuturnya.

Selain aspek teknis, Pemkot Bandung juga masih menghitung kelayakan ekonomi mesin. Beberapa komponen yang menjadi perhatian antara lain konsumsi listrik, kebutuhan tenaga kerja dan biaya pengelolaan sampah yang nantinya harus ditanggung masyarakat atau pemerintah.

“Cuma memang kita mesti bicara masalah apakah konsumsi listriknya efisien. Berapa banyak jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan? Berapa besar kalau misalkan kita mau jual jasa pengelolaan sampah itu kepada masyarakat, masyarakat itu mesti bayarnya berapa?” ujarnya.

Evaluasi ditargetkan rampung pada Oktober. Jika hasil pengujian menunjukkan mesin efisien dan layak digunakan, pihaknya akan mulai memperluas penerapannya ke 20 titik sebelum dikembangkan secara bertahap ke seluruh kelurahan.

“Kalau Oktober sudah ketahuan hasilnya dan ternyata efisien, kita bisa laksanakan. Langsung duplikasi di 20 dulu titik dahulu. Dari 20 dan 20 jalan semuanya, baru kita tambah secara bertahap sampai 151 kelurahan. Satu kelurahan, satu mesin,” jelasnya.

Untuk proyek pengolahan sampah berskala besar di Gedebage, program tersebut berbeda dengan mesin percontohan di Padasuka. Proyek yang melibatkan Danantara itu, dirancang memiliki kapasitas pengolahan jauh lebih besar yakni sekitar 300 ton sampah di satu wilayah.

Saat ini, Pemkot Bandung masih memprioritaskan penyiapan lahan proyek tersebut. Pemerintah juga perlu memastikan jenis dan volume sampah yang dibutuhkan, agar dapat menentukan pola pemilahan dan jalur pengangkutan menuju lokasi pengolahan.

“Dari gambar itu kita akan dapat gambaran tentang seberapa banyak sampah yang dibutuhkan, organik atau non organik. Apakah di situ boleh juga ada tempat pemilahan,” sambungnya.

Pemerintah juga tengah menyiapkan proposal kepada Kementerian Lingkungan Hidup untuk mendapatkan dukungan kendaraan khusus pengangkutan sampah. Kendaraan itu, diharapkan dapat mengangkut sampah menuju Gedebage tanpa menambah gangguan bagi masyarakat di sepanjang jalur pengiriman.

“Tujuannya sehingga tidak mengganggu masyarakat yang akan dilewati di seputaran Cisaranten sampai ke Cinambo, sampai ke Rancanumpang dan sampai ke Gedebage,” ucapnya.

Sementara itu, teknologi yang diklaim dapat menghilangkan bau dalam proses pengolahan sampah di Gedebage juga masih harus dibuktikan melalui tahap eksperimen. Farhan mengatakan, pemerintah masih menunggu hasil pengujian teknologi sebelum memastikan penerapannya.

“Menurut Kemenristek, teknologi itu akan menghilangkan bau. Kan kita belum tahu. Masih eksperimen, mudah-mudahan. Bismillah lah,” imbuhnya.


Editor : Doni Ramdhani