Pakar Pendidikan Sebut Disdik Kabupaten Bandung Kudu Turun Tangan Selesaikan Polemik Biaya Perpisahan di SMPN 1 Baleendah 

Pakar Pendidikan Sebut Disdik Kabupaten Bandung Kudu Turun Tangan Selesaikan Polemik Biaya Perpisahan di SMPN 1 Baleendah 
Pengamat Kebijakan Pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Cecep Darmawan

INILAHKORAN,Soreang- Pengamat Kebijakan Pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Cecep Darmawan, menyarankan Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung sebaiknya turun tangan menyelesaikan persoalan dugaan pungutan uang perpisahan di SMPN 1 Baleendah Kabupaten Bandung

Dimana dugaan pungutan sebesar Rp285 ribu untuk biaya perpisahan dan pembelian album poto kenangan kelas 9 itu dikeluhkan oleh sebagian orang tua siswa.

"Pihak sekolah harusnya mempertimbangkan beberapa hal. Diantaranya regulasi, apakah diperbolehkan atau tidak. Kemudian, kalau itu kebijakan sekolah yang menyangkut iuran untuk biaya kegiatan sebaiknya dimusyawarahkan antar orang tua siswa melalui forum komite sekolah dan tembusan kepada  Dinas Pendidikan.  Minta pendapat orang tua siswa dan nominal sumbangannya harus disepakati oleh semua orang tua siswa sesuai kesanggupan masing-masing dan jangan membebani apalagi bagi mereka kelompok rentan," kata Cecep melalui sambungan telepon, Rabu 12 April 2023.

Kemudian, kata Cecep, apapun bentuknya pihak sekolah tidak dibenarkan melakukan pungutan. Kecuali sumbangan yang tidak dipatok besarannya. Disisi lain, komite sekolah juga sebaiknya lebih memihak kepada kepentingan para orang tua siswa, bukan menjadi sekedar kepanjangan tanganan kepentingan  sekolah untuk melakukan pungutan kepada siswa.

"Sebab, apapun namanya pungutan itu dilarang.  pungutan itu sifatnya wajib,  nominalnya ditentukan, dan juga ada batas waktunya. Sementara kalau sumbangan, sifatnya suka rela, nilainya tidak ditentukan dan tidak ada batas waktu. Pihak sekolah dan komite harus paham itu, jangan sampai terjadi pungutan-pungutan dengan nama iuran yang memberatkan orang tua siswa, apalagi di sekolah negeri, tidak boleh itu ada pungutan apapun bentuknya,"ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, Para orang tua siswa kelas 9 Sekolah Menengah Pertama Negerin (SMPN) 1 Baleendah Kabupaten Bandung, mengeluhkan adanya pungutan uang untuk perpisahan dan pembelian album poto kenangan sebesar Rp 285 ribu per siswa.

"Awalnya itu nilainya Rp 300 ribu, diturunkan sedikit jadi Rp 285 ribu. Kami orang tua siswa memang diajak rapat oleh komite, tapi sayangnya dalam rapat itu selain tidak diberikan kesempatan menyampaikan keberatan, kami juga tiba-tiba disodori lembar persetujuan untuk ditandatangani tanpa ada ditulis nominalnya," kata salah seorang orang tua siswa kelas 9 yang tak mau disebutkan namanya, Senin 10 April 2023.

Ia menyebutkan, uang sebesar Rp 285 ribu itu untuk diluar untuk biaya sewa pakaian adat, pembelian T-Shirt kelas dan lainnya. Sehingga, biaya yang harus dikeluarkan oleh orang tua siswa kelas 9 ini lumayan besar. Dalam kondisi ekonomi sulit seperti sekarang, jumlah ini tentu memberatkan mereka. Karena meskipun SMPN 1 Baleendah ini sekolah favorit, namun tidak semua siswanya berasal dari keluarga mampu.

"Uang itu harus terkumpul pada bulan Mei hingga Juni. Tidak semua orang tua siswa mampu, harusnya pihak sekolah dan komite itu mau melihat dan mendengarkan keberatan para orang tua siswa, jangan asal menentukan nilai, kemudian berdalih sudah disetujui oleh kami para orang tua siswa," ujarnya.

Orang tua siswa kelas 9 SMPN 1 Baleendah lainnya mengungkapkan keresahan yang sama. Kata dia, pungutan atau iuran berdalih sumbangan seikhlasnya ini dirasa sering terjadi di sekolah ini. Jauh sebelumnya, mereka diminta sumbangan sukarela untuk pembangunan panggung. Kemudian, sumbangan pengecatan ruang kelas, kipas angin dan lainnya.

"Memang yang melakukan itu komite sekolah. Tapi anehnya kok untuk biaya pengecatan dan lainnya itu kok minta partisipasi ke orang tua siswa. Bukannya sekolah itu punya anggaran pemeliharaan daru dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), apalagi ini kan sekolah negeri tapi kok sering banget minta sumbangannya," katanya.(rd dani r nugraha).


Editor : Ahmad Sayuti