Pangalengan dan Nestapa dari Kebun Teh
PANGALENGAN menyimpan luka di balik hijaunya kebun teh.Ancaman alih fungsi lahan memunculkan kekhawatiran terhadap kelestarian lingkungan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Ada yang terkoyak di balik hijaunya Pangalengan.Ribuan tanaman teh dilaporkan rusak. Seorang petugas perkebunan mengalami luka memar.
Hamparan kebun teh yang selama ini menjadi bagian dari wajah Pangalengan, Kabupaten Bandung, kini menyimpan cerita tentang konflik dan kegelisahan lingkungan.
Dugaan perusakan tanaman produktif milik PTPN I Regional 2 berujung ricuh, sementara rencana perubahan tutupan lahan menjadi kebun sayur memunculkan kekhawatiran akan ancaman erosi, banjir lumpur, dan tanah longsor.
Di antara barisan tanaman yang rusak, persoalan tak lagi sebatas siapa yang melakukan perusakan dan siapa yang harus bertanggung jawab.
Ada bentang alam yang perlu dijaga, tanah yang harus tetap mampu menahan air, dan kehidupan masyarakat yang bergantung pada keseimbangan lingkungan.
Perusakan pertama diketahui pada Senin, 26 Oktober 2026, di Blok Cijeumpe 2.
Asisten Kepala Kebun Malabar PTPN I Regional 2, Arya Rahardi, menyebut sekitar 17 orang diduga merusak tanaman teh produktif di lahan seluas kurang lebih 0,4 hektare. Sekitar 5.000 pohon teh dilaporkan mengalami kerusakan.
“Pada hari Senin itu, kami mendatangi lokasi dan mendapati tanaman teh sudah rusak seluas kurang lebih 0,4 hektare. Saat itu mereka masih ada di sana. Secara persuasif, kami meminta mereka menghentikan aksi perusakan, meninggalkan lokasi, dan tidak melakukan perbuatan serupa,” kata Arya kepada INILAH, Rabu (28/10).Dua hari kemudian, perusakan kembali terjadi di lokasi yang sama. Sekitar 25 orang diduga menggunakan gergaji untuk merusak tanaman teh. Tim perkebunan bersama petugas keamanan mendatangi lokasi dan mengamankan sembilan orang, sementara sejumlah lainnya melarikan diri.
Namun, upaya membawa sembilan orang tersebut ke Polsek Pangalengan justru berujung kericuhan. Menurut Arya, kendaraan mereka dicegat sekitar 200 orang yang disebut mengaku berasal dari Aliansi Petani Pangalengan (APP). Massa diduga memaksa pihak perkebunan menyerahkan orang-orang yang telah diamankan.
“Dalam perjalanan, kendaraan kami dicegat sekitar 200 orang. Bahkan, ban kendaraan kami digembosi,” kata Arya.
Situasi memanas. Asisten Afdeling Kertamanah, Sadida, mengalami luka memar di wajah dan tubuh akibat dugaan penganiayaan. Sembilan orang yang sebelumnya diamankan pun berhasil melarikan diri. Sadida kemudian dibawa ke Polsek Pangalengan untuk menghindari amukan massa.
Peristiwa tersebut berkembang menjadi saling tuding. Arya menyebut sebagian massa juga mengaku sebagai korban penganiayaan. Karena itu, kronologi dan tanggung jawab masing-masing pihak perlu dipastikan melalui pemeriksaan kepolisian, bukan hanya berdasarkan keterangan salah satu pihak.
Kapolresta Bandung Kombes Pol Tri Suhartanto mengatakan polisi menerima laporan dari kedua belah pihak, baik terkait dugaan perusakan tanaman teh maupun dugaan pemukulan oleh pegawai perkebunan.
“Sudah diamankan di Polsek Pangalengan dan dari kedua belah pihak sama-sama membuat laporan di Polsek Pangalengan dan Polresta Bandung. Setelah mendapatkan laporan dari kedua belah pihak ini tentu kami menindaklanjuti pengaduan dari kedua pihak ini secara profesional,” kata Tri di Mapolresta Bandung, Soreang, Kamis (29/10/2026).
Menurut Tri, polisi akan mendalami kedua laporan dan mempertemukan pihak-pihak yang terlibat untuk mencari penyelesaian. Ia juga menekankan pentingnya meluruskan dugaan miskomunikasi dan misinformasi agar konflik tidak semakin meluas.
“Karena ini miskomunikasi dan misinformasi juga. Semua pihak terkait harus duduk bersama. Insyaallah akan kami lakukan secepatnya untuk mencari jalan keluarnya. Ini kita akan cari solusi, jangan cari masalah karena masalahnya sudah ada, yang kita cari bagaimana menyelesaikan masalahnya,” ujarnya.
Polisi memastikan penanganan laporan tetap berjalan. Di tengah proses tersebut, penyelesaian yang adil diperlukan agar ketegangan tidak terus membesar dan persoalan di kebun teh tidak kembali berujung kekerasan.
Percepat Erosi Di balik konflik kebun teh, ada persoalan lingkungan yang tak kalah penting. Dugaan lahan teh hendak dialihkan menjadi kebun sayur memunculkan kekhawatiran tentang perubahan tutupan lahan di kawasan perbukitan Bandung Selatan.
Pengamat geologi Universitas Padjadjaran, Dr Cipta Endyana mengingatkan, perubahan penggunaan lahan tanpa pengelolaan yang tepat dapat meningkatkan limpasan air hujan dan mempercepat erosi. Tanah yang tergerus kemudian terbawa aliran air menuju wilayah lebih rendah, membawa sedimen yang dapat memicu banjir lumpur.
“Kalau misalkan kita ada hujan, itu akan tererosi, banyak membawa sedimen. Sehingga banjir itu akan membawa banyak erosi sedimen. Nah, itu yang menyebabkan ada lumpur, banyak lumpur,” kata Cipta saat dihubungi INILAH, Kamis (29/10).
Menurut dia, lahan yang digunakan untuk budidaya sayuran cenderung lebih mudah tererosi apabila tidak dikelola dengan baik. Risiko semakin besar jika perubahan tutupan lahan berlangsung secara masif tanpa memperhitungkan kondisi geografis dan daya dukung lingkungan.
“Kalau tidak dikelola dengan baik, itu akan menjadi banjir ya, banjir dan membawa tadi lumpur tadi, banjir lumpur,” ujarnya.
Karena itu, perubahan fungsi lahan di kawasan perbukitan perlu disertai perencanaan teknis. Penataan irigasi, pembuatan terasering, dan pengendalian erosi menjadi bagian penting untuk menekan aliran air permukaan serta jumlah sedimen yang terbawa saat hujan.
“Jadi misalkan irigasinya, jadi tidak bisa miring, itu harus ada terasiringnya dan lain sebagainya, seperti itu. Sehingga laju sedimennya dan erosinya itu terkendali,” tuturnya.
Cipta menjelaskan, karakteristik wilayah pegunungan dan perbukitan di Jawa Barat bagian selatan membuat kawasan ini perlu mendapat perhatian dalam mitigasi bencana. Pelapukan batuan vulkanik dan berkurangnya tutupan vegetasi dapat meningkatkan kerentanan tanah terhadap longsor.
Ketika vegetasi dengan sistem perakaran yang kuat diganti tanaman yang akarnya lebih lemah, kemampuan tanah mengikat material dan menyerap air berpotensi menurun. Air hujan pun lebih banyak mengalir di permukaan.
“Apalagi dia dibuka nih, dialihfungsikan nih, menjadi tanaman-tanaman yang tidak memiliki akar yang kuat. Sehingga dia akan lebih mudah, jadi kalau ada hujan nih, dia tidak menyerap, tapi langsung menjadi air permukaan,” katanya.
Perkebunan teh, lanjut Cipta, memiliki peran dalam membantu menjaga kestabilan tanah melalui sistem perakarannya. Meski lahan tetap dapat dimanfaatkan untuk budidaya sayuran, pengelolaannya harus mempertimbangkan kondisi geografis dan disertai teknik konservasi yang memadai.
Dengan kata lain, persoalannya bukan semata tanaman apa yang tumbuh di atas tanah, melainkan bagaimana lahan dikelola agar tetap mampu menopang kehidupan dan mengurangi risiko bencana.
(dani r nugraha/yuliantono/gin)
Editor : Inilahkoran

