Pasokan Kepokmas dari Distributor Minim, Pedagang Pasar Tradisional di Cimahi Mengalami Penurunan Omset

Minimnya pasokan sejumlah komoditas pokok dari distributor membuat para pedagang di sejumlah pasar tradisional di Kota Cimahi meradang.

Pasokan Kepokmas dari Distributor Minim, Pedagang Pasar Tradisional di Cimahi Mengalami Penurunan Omset
Minimnya pasokan sejumlah komoditas pokok dari distributor membuat para pedagang di sejumlah pasar tradisional di Kota Cimahi meradang.

INILAHKORAN, Cimahi - Minimnya pasokan sejumlah komoditas pokok dari distributor membuat para pedagang di sejumlah Pasar tradisional di Kota Cimahi meradang.

Pasalnya, akibat harga komoditas yang meroket membuat para pedagang sepi pembeli hingga omzet menurun.

"Harga sejumlah komoditas saat ini sedang melonjak, sehingga membuat pasar sepi pembeli," ungkap salah seorang pedagang Pasar Atas Cimahi, Hanna Subiyarti kepada wartawan.

Hanna menyebut, sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan, antara lain gula putih, minyak, ayam potong dan telor ras.

Menurutnya, pasca Lebaran Idulfitri kemarin para pedagang kembali khawatir dan mengeluhkan naiknya harga sejumlah kebutuhan pokok masyarakat dan penurunan stok barang yang hampir terjadi setiap tahunnya.

"Kenaikan harga pasti terjadi setiap tahunnya. Jadi bukan hal yang aneh. Harga selalu naik dan stok barang menipis setelah Lebaran," tuturnya.

"Kita perkirakan harga dan stok barang akan kembali normal sekitar bulan Juni atau Juli," ucapnya.

Hanna menduga, naiknya sejumlah komoditas saat ini disebabkan kelangkaan stok dari distributor. Sebaliknya, permintaan barang masih tinggi.

"Distributor menyampaikan stok barang menipis, tapi permintaan masih tinggi," ujarnya.

Hanna menerangkan, kenaikan sejumlah kepokmas terjadi sejak 7 Mei 2024. Harga gula putih yang semula Rp 17 ribu per kilogram, kini menjadi Rp 19 ribu per kilogram.

"Minyak curah yang semula Rp 17 ribu, naik menjadi Rp 18 ribu per liter. Lalu minyak kemasan yang sebelumnya dijual Rp 18 ribu kini naik menjadi Rp 19 per liter," terangnya.

Terpisah, UPTD Pasar Atas, Andri Gunawan mengatakan kenaikan harga seperti ayam dan bawang merah disebabkan oleh kurangnya pasokan.

"Suplai kurang karena kurangnya barang daei petaninya," ujarnya.

Andri pun tak memungkiri para pedagang di pasar mengeluhkan penurunan omzet akibat sepinya pembeli.

Kendati demikian, pemerintah saat ini tengah memberikan sosialisasi untuk mendorong agar masyarakat melakukan belanja produk lokal guna memulihkan omzet pedagang.

"Solusi dari UPT pasar dengan cara melakukan penjualan secara online," ucapnya.

Namun, ungkap Andri, pihaknya mengalami kendala dalam prosesnya. Sebab, ada sejumlah pedagang lanjut usia yang kesulitan dalam menjual produknya secara online.

"Banyak pedagang yang sudah sepuh yang kurang paham tentang penjualan secara online," ungkapnya.

"Solusinya, paling mereka dibantu oleh pengelola atau pedagang yang lainnya," pungkasnya.*** (agus satia negara)


Editor : JakaPermana