Pedagang Terminal Cicaheum Khawatir Mata Pencaharian Hilang
Rencana pemerintah mengalihfungsikan Terminal Cicaheum menjadi depo Bus Rapid Transit (BRT), menimbulkan kekhawatiran di kalangan pedagang dan pekerja terminal. Mereka menilai, perubahan tersebut berpotensi mengancam mata pencaharian yang telah berlangsung puluhan tahun.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Rencana pemerintah mengalihfungsikan Terminal Cicaheum menjadi depo Bus Rapid Transit (BRT), menimbulkan kekhawatiran di kalangan pedagang dan pekerja terminal. Mereka menilai, perubahan tersebut berpotensi mengancam mata pencaharian yang telah berlangsung puluhan tahun.
Erni, pedagang asal Padasuka sudah berjualan di terminal sejak 2009. Ia menyebut, isu pemindahan terminal sudah terdengar sejak lama bahkan sejak era Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil. “Isu pemindahan Terminal Cicaheum ini sudah lama kami dengar, kalau tidak salah sejak era Wali Kota Ridwan Kamil,” kata Erni, Rabu 10 Desember 2025.
Ia menegaskan, para pedagang tidak menolak pembangunan BRT. Tetapi berharap tetap bisa berjualan di lokasi yang sama. “Kalau memang ada rencana alih fungsi Terminal Cicaheum menjadi depo BRT, silakan saja. Asal bisa saling berdampingan dengan yang sudah berjalan saat ini, sehingga kami tetap bisa mencari nafkah di sini,” ucapnya.
Menurut ia, kekhawatiran terbesar para pedagang adalah ketidakpastian relokasi. Mereka mendengar, Terminal Leuwipanjang akan menjadi lokasi pengganti. “Di sana juga sudah banyak pedagang. Apakah nanti pedagang Cicaheum akan diterima? Itu yang kami khawatirkan,” ujar dia.
Ia juga menyoroti faktor ekonomi. Pembeli utama pedagang di Terminal Cicaheum adalah penumpang luar kota. “Pembeli kami kebanyakan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur yang selalu membeli oleh-oleh. Kalau penumpang dari sana tidak ada lagi, dagangan kami tentu tidak laku,” tambahnya.
Keluhan serupa datang dari Eman, porter yang telah bekerja 25 tahun di terminal. “Kalau dipindahkan, saya keberatan. Biaya hidup saya dari sini saja. Kalau pindah, saya bingung harus bagaimana. Mudah-mudahan tetap di sini, jangan pindah,” kata Eman.
Kepala Terminal Cicaheum, Asep Supriadi membenarkan, aspirasi penolakan warga yang disampaikan melalui spanduk. Namun ia menegaskan, hingga kini operasional terminal masih berjalan normal. “Terminal Cicaheum masih aman-aman saja. Beroperasi seperti biasa, melayani seperti biasa. Kondusif dan aman,” kata Asep Supriadi.
Ia menekankan, rencana pemerintah bukan penutupan terminal, melainkan peralihan fungsi. “Bukan penutupan, itu peralihan. Peralihan moda transportasi yang tadinya melayani antar kota antar provinsi, menjadi layanan dalam kota,” ucapnya.
Ia juga menjelaskan, warga mengetahui isu tersebut dari media sosial karena belum ada sosialisasi resmi dari pemerintah. “Belum ada sosialisasi resmi. Dari medsos mereka mempertanyakan ke kami, padahal kami juga belum menerima sosialisasi apa pun,” ujar dia.
Asep memahami kekhawatiran warga, terutama karena relokasi bertepatan dengan momen Idulfitri. “Mereka takut kehilangan mata pencarian yang sudah bertahun-tahun dijalani. Apalagi akhir 2025 itu dekat Idulfitri,” tuturnya.
Ia mengimbau warga agar tidak terprovokasi oleh informasi yang tidak jelas, dan tetap memanfaatkan paguyuban terminal sebagai wadah komunikasi. “Paguyuban di sini sudah terbentuk sejak dulu. Itu berjalan bagus dan bisa menolong rekan-rekan yang ada di sini,” tandas dia.***
Editor : JakaPermana

