Peluang Baru Era Digital

Peluang Baru  Era Digital
HADIRI WISUDA: Dirjen Saintek Kemdiktisaintek Ahmad Najib Burhani, dalam kegiatan wisuda di Polimedia Jakarta, Selasa (3/11).(ANTARA/SEAN FILO MUHAMAD)

INILAH, Jakarta - Perubahan teknologi digital tak lagi sekadar menggeser cara manusia berkomunikasi. Kehadirannya turut mengubah wajah industri, membuka peluang ekonomi baru, bahkan memperkenalkan potensi yang sebelumnya luput dari perhatian.

Fenomena itu menjadi tantangan sekaligus peluang bagi para lulusan perguruan tinggi yang memasuki dunia kerja. Mereka dituntut bukan hanya memiliki ijazah dan keterampilan, tetapi juga kemampuan beradaptasi menghadapi perubahan yang semakin sulit diprediksi.

Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Ahmad Najib Burhani mengingatkan pentingnya kesiapan tersebut. Pesan itu disampaikan dalam Wisuda Program Sarjana Terapan dan Diploma III Angkatan ke-16 Tahun 2026 Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia) di Jakarta, Selasa.

Najib menilai perkembangan dunia digital telah menciptakan disrupsi yang mengubah perspektif masyarakat terhadap pendidikan, kehidupan, hingga berbagai sektor industri. Perubahan tersebut menghadirkan situasi yang tidak selalu mudah dipahami atau diprediksi.

"Dunia digital itu menjadi disorienting dilemma. Sesuatu yang mengubah perspektif kita itu tentang pendidikan, tentang kehidupan, dan sebagainya. Pendeknya, kehidupan kita itu tidak sama lagi dengan kelahiran digital di tengah-tengah kita," katanya, seperti dikutip dari ANTARA, Selasa (3/11).

Namun, disrupsi tidak semestinya hanya dipandang sebagai ancaman. Di balik perubahan yang berlangsung cepat, terdapat peluang untuk melahirkan inovasi, termasuk dari sesuatu yang sebelumnya dianggap biasa atau bahkan dipandang sebelah mata.

Najib mencontohkan perubahan yang terjadi pada masyarakat Baduy. Komunitas yang selama ini dikenal menjaga tradisi dan membatasi akses terhadap teknologi modern itu justru mendapat perhatian luas melalui media sosial, khususnya Instagram.

Karakter Instagram yang mengandalkan kekuatan visual memungkinkan kehidupan masyarakat Baduy dikenal oleh publik dalam berbagai sisi. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa teknologi digital dapat membuka ruang baru bagi potensi budaya lokal.

"Awalnya tidak pernah tersentuh oleh dunia. Tidak ada listrik, tidak ada radio, tidak ada TV, tidak ada motor, dan sebagainya. Tetapi yang mengubah satu hal, Instagram. Jadi, berbeda dengan media sosial lain, Instagram itu lebih menampilkan aspek visual. Instagram bisa menampilkan masyarakat Badui di dua dunia secara berbeda pada saat bersamaan," ungkap Najib.

Contoh lainnya terlihat pada perubahan industri transportasi. Ojek konvensional yang sebelumnya beroperasi secara sederhana berkembang menjadi bagian dari ekosistem ekonomi digital berskala besar setelah hadirnya platform berbasis teknologi.

Bagi Najib, pengalaman tersebut menjadi gambaran bahwa peluang dapat muncul ketika kreativitas bertemu dengan perkembangan teknologi. Karena itu, para lulusan perguruan tinggi didorong mampu membaca potensi ekonomi kreatif dan mengolahnya menjadi inovasi yang bernilai ekonomi. (gin)


Editor : Inilahkoran