Tinggalkan Pinjol dan Judol: Jangan Gengsi Hindari Rugi
GUBENRUR Jabar Dedi Mulyadi mengingatkan warga agar bijak mengelola keuangan. Jangan sampai gengsi hajatan berujung lilitan utang.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Yuliantono
Pesta pernikahan semestinya menjadi awal kebahagiaan bagi pasangan yang membangun rumah tangga. Namun, kemeriahan sehari itu bisa berubah menjadi beban panjang apabila seluruh biayanya harus ditanggung dari uang pinjaman.
Gambaran itulah yang disoroti Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ketika berbicara tentang tingginya angka pinjaman online (pinjol) di wilayahnya.
Dia mengingatkan masyarakat agar lebih bijak mengatur keuangan dan tidak memaksakan diri memenuhi tuntutan gaya hidup, termasuk menggelar hajatan mewah dengan mengandalkan utang.
Dedi mengungkapkan, Jawa Barat masih menjadi provinsi dengan angka pinjaman online tertinggi di Indonesia. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama agar masyarakat tidak semakin terjerat persoalan utang, termasuk praktik judi online (judol).
"Pesan saya adalah seluruh warga Jabar, agar Jabar tidak menjadi ranking pertama pinjol di Indonesia. Tidak jadi ranking pertama judol di Indonesia," ujar Dedi, Selasa (3/11).
Menurutnya, salah satu pemicu masyarakat terjerat pinjaman adalah keputusan finansial yang tidak mempertimbangkan kemampuan ekonomi. Gengsi sosial dan keinginan memenuhi standar kemewahan kerap membuat seseorang rela berutang untuk kebutuhan yang sebenarnya bisa disesuaikan.
Dia mencontohkan pengalamannya saat berkunjung ke Kabupaten Majalengka. Ketika bertemu warga yang tengah menggelar hajatan pernikahan, Dedi mendapat informasi bahwa pesta tersebut dibiayai menggunakan uang pinjaman sebesar Rp25 juta.
Bagi Dedi, keputusan itu patut dipikirkan kembali. Uang yang habis untuk membiayai pesta sesaat sebenarnya bisa dialihkan ke kebutuhan yang lebih produktif, seperti modal usaha atau membeli rumah.
"Saya nanya, siap modal kawin di mana? Dijawab, pinjem di bank 25 juta, bayangin. Nyicil rumah kapan? Dijawab nyak rumah isukan, anaknya yang kawin, anaknya yang bahagia, besok bapaknya yang menderita," ungkapnya.
Dia mengingatkan, tanggung jawab keuangan sebuah keluarga tidak berhenti setelah pesta pernikahan selesai. Masih ada kebutuhan rumah tangga, kehamilan, persalinan, hingga membesarkan anak yang harus dipersiapkan.
Tanpa perencanaan keuangan yang matang, utang untuk membiayai hajatan berpotensi menjadi awal dari persoalan keuangan berikutnya.
"Setelah hajatan akan ada istri yang hamil dan perlu biaya melahirkan. Belum lagi hajatan kelahiran, jika tidak bijak mengelola uang akan terus terjerat hutang," katanya.
Karena itu, Dedi meminta masyarakat mengubah pola pikir yang menempatkan kemewahan dan pengakuan sosial sebagai ukuran keberhasilan. Dia mengingatkan warga agar tidak terjebak tradisi mengutamakan gengsi meski harus mengorbankan kondisi keuangan keluarga.
"Untuk itu ibu-ibu, bapak-bapak, cerdaslah dalam melakukan keuangan. Tinggalkan tradisi kajen tekor asal kasohor," pintanya. (gin)
Editor : Inilahkoran

