Pemadaman Listrik Bergilir, Warga dan Pelaku Usaha di Cirebon Mengeluh

Warga dan Pelaku Usaha di Cirebon mengeluhkan adanya pemadaman listrik bahkan mereka mengaku tidak menerima pemberitahuan

Pemadaman Listrik Bergilir, Warga dan Pelaku Usaha di Cirebon Mengeluh
salah satu pelaku usaha kedai kopi yang terdampak akibat seringnya pemadaman lampu secara bergilir di Kota Cirebon. Akibatnya banyak pembeli yang memilih balik kanan saat tau kondisi kedai mati lampu

INILAHKORAN.ID – Gelombang keluhan terhadap seringnya pemadaman listrik tanpa pemberitahuan kembali mencuat di Kabupaten Cirebon. Warga Kecamatan Tengahtani, mengaku resah karena listrik kerap padam secara mendadak dalam beberapa pekan terakhir tanpa informasi resmi dari PT PLN (Persero).

Salah seorang pelanggan PLN, Andi mempertanyakan penyebab seringnya pemadaman yang terjadi. Menurutnya, kondisi tersebut mengganggu aktivitas rumah tangga sekaligus merugikan masyarakat yang bergantung pada pasokan listrik.

"Sering mati lampu tanpa informasi. Kami jadi bertanya-tanya sebenarnya ada apa dengan PLN," ujar Andi, Senin (22/6/2026).

Andi menilai, PLN seharusnya memberikan pemberitahuan lebih awal kepada pelanggan, baik untuk pemadaman terjadwal maupun gangguan teknis. Menurutnya, kepastian informasi sangat dibutuhkan agar masyarakat dapat mengantisipasi dampak yang ditimbulkan.

"Kami hanya butuh informasi yang jelas agar bisa bersiap jika memang ada pemadaman," katanya.

Warga juga mengaku khawatir terhadap kondisi peralatan elektronik rumah tangga yang berisiko mengalami kerusakan akibat listrik yang sering padam maupun tegangan yang tidak stabil.

"Kami takut peralatan elektronik rusak karena listrik mati hidup terus," ungkap salah seorang warga.

Berdasarkan pantauan di lapangan, pemadaman tidak hanya terjadi di Kabupaten Cirebon. Keluhan serupa juga datang dari sejumlah wilayah di hampir seluruh wilayah Kota Cirebon.

Selain warga, dampak pemadaman juga dirasakan pelaku usaha. Pemilik Zaid Kopi kawasan Rumah Sakit Siloam, Perum Kota Cirebon Zidni, mengaku usahanya mengalami gangguan serius karena sebagian besar proses penyajian kopi menggunakan mesin berbasis listrik.

"Banyak pesanan kopi yang harus menggunakan mesin. Kalau listrik mati, pelayanan otomatis terganggu," ujar Zidni.

Dia mengaku pernah mengalami pemadaman hingga sekitar tiga jam saat kedainya sedang ramai pengunjung. Akibatnya, sejumlah pelanggan memilih membatalkan pesanan bahkan meninggalkan lokasi karena kondisi ruangan menjadi panas setelah pendingin udara tidak berfungsi.

"Pelanggan yang datang banyak yang balik kanan. Yang sudah duduk pun memilih pulang karena AC mati dan ruangan jadi panas," katanya.

Keluhan serupa disampaikan pemilik Uma Kopi di kawasan Jaga Satru. Uma mengaku, pemadaman bergilir yang terjadi belakangan ini menyebabkan kerugian usaha dan berdampak pada kondisi peralatan elektronik di kedainya.

"Beberapa peralatan mulai mengalami kerusakan kecil akibat listrik yang sering padam," ujarnya.

Menurutnya, pelanggan juga kerap membatalkan kunjungan setelah mengetahui kedainya sedang mengalami pemadaman listrik.

"Ketika tahu kedai mati lampu, banyak pelanggan memilih mencari tempat lain," kata pemilik Uma Kopi.

Dia berharap pemadaman segera berakhir agar aktivitas usaha dapat kembali berjalan normal.

"Kami berharap kondisi ini cepat selesai supaya bisnis tidak terus terganggu," tandasnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Cirebon terkait penyebab seringnya pemadaman di sejumlah wilayah tersebut.

Upaya konfirmasi kepada Humas PLN UP3 Cirebon, Siti Anisa Andriyani, melalui sambungan telepon maupun pesan WhatsApp juga belum mendapatkan respons. 


Editor : Ahmad Sayuti