Pembongkaran Lapak Cicadas Berlanjut, Relokasi dan Kompensasi Belum Jelas

Pembongkaran lapak pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Cicadas, Kota Bandung terus berlanjut tanpa kepastian nasib ratusan pedagang yang terdampak.

Pembongkaran Lapak Cicadas Berlanjut, Relokasi dan Kompensasi Belum Jelas
Suasana kawasan Cicadas usai penertiban lapak PKL yang telah memasuki tahap lanjutan./INILAHKORAN-Yogo Triastopo

INILAHKORAN.ID - Pembongkaran lapak pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Cicadas, Kota Bandung terus berlanjut tanpa kepastian nasib ratusan pedagang yang terdampak.

Hingga memasuki tahap ketiga, puluhan kios telah diratakan. Sementara para pedagang, masih bertahan di tengah ketidakjelasan relokasi maupun kompensasi dari pemerintah.

Ketua Persatuan PKL Cicadas, Suherman menyebut, pembongkaran sejauh ini telah menyasar sekitar 40 kios dan 19 meja. Di sisi lain, masih terdapat ratusan lapak yang tersisa baik yang masih aktif maupun yang sudah kosong.

“Ini sudah tiga tahap. Kurang lebih 40 kios dan 19 meja sudah dibongkar. Sisa lapak yang masih terisi ada 141, dan sekitar 106 kios,” kata Suherman, Rabu (6/5/2026).

Dia menegaskan, pembongkaran saat ini bukan bagian langsung dari proyek pembangunan bus rapid transit (BRT) Bandung Raya. Langkah tersebut, merupakan inisiatif Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menertibkan lapak kosong yang dinilai terbengkalai.

“Pembongkaran ini bukan karena proyek BRT, tapi inisiatif pemkot karena lapak kosong dianggap ditinggalkan pedagang,” ucapnya.

Meski demikian, kondisi di lapangan menunjukkan dampak signifikan bagi pedagang yang sudah kehilangan tempat usaha. Tanpa relokasi yang jelas, mereka terpaksa mencari cara bertahan termasuk berjualan di lokasi sementara.

“Yang sudah dibongkar sekarang berjualan di luar, seperti di pasar kaget hari Minggu. Belum ada tempat tetap,” ujar dia.

Dari total sekitar 560 pedagang yang terdata, suara PKL Cicadas kini terbelah. Sebagian menginginkan kompensasi, sementara lainnya tetap ingin berjualan di lokasi yang tidak jauh dari tempat semula.

PKL di sini terbagi dua, ada yang minta kompensasi, ada juga yang tetap ingin berjualan. Tapi semuanya sama, menunggu kepastian dari pemerintah,” tegasnya.

Suherman menambahkan, hingga kini belum ada opsi tempat yang realistis di kawasan Cicadas. Sementara itu, pedagang menolak jika harus dipindahkan ke lokasi yang jauh karena berisiko kehilangan pelanggan.

“Kalau relokasi, di Cicadas ini tidak ada tempat. Dan pedagang tidak mau dipindahkan jauh dari sini,” tandas dia.***


Editor : JakaPermana