Pemkab Cirebon Ubah Strategi, Pengelolaan Sampah Difokuskan Tuntas di Tingkat Desa
Pemkab Cirebon mulai mengubah strategi pengelolaa sampah dari pola angkut-buang menjadi pengelolaan mandiri berbasis desa guna mengatasi tingginya volume.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Pemkab Cirebon mulai mengubah strategi penanganan sampah dari pola angkut-buang menjadi pengelolaan mandiri berbasis desa. Langkah itu diambil untuk mengatasi tingginya volume sampah harian.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon Dede Sudiono mengatakan, sejauh ini colume sampah harian mencapai mencapai 1.261 ton. Sedangkan, upaya pengelolaan sampah yang mampu ditangani baru sekitar 389 ton.
Dede mengungkapkan, masih ada sekitar 872 ton sampah per hari yang belum tertangani sehingga berdampak pada masih banyaknya tumpukan sampah di berbagai lokasi.
"Dari total 1.261 ton sampah per hari, baru sekitar 389 ton yang tertangani. Artinya, masih ada 872 ton sampah yang berkeliaran di sekitar kita. Jangan heran jika masih banyak sampah di pinggir-pinggir jalan," ujarnya, Jumat (3/7/2026).
Menurutnya, paradigma pengelolaan sampah harus diubah. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) ke depan diarahkan bertransformasi menjadi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), sehingga sampah dipilah dan diolah, sementara yang dibuang ke TPA hanya residunya.
"Paradigma pengelolaan sampah harus diubah. Ke depan, TPA harus bertransformasi menjadi TPST agar sampah dipilah dan diolah, sehingga yang dibuang ke TPA hanya residunya." ucap Dede.
Sedangkan, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Cirebon Dangi menegaskan penambahan armada truk sampah bukan menjadi solusi utama dalam menyelesaikan persoalan persampahan.
"Kalau orientasinya hanya angkut-buang, kita hanya menjadi pebisnis angkutan sampah. Yang dibutuhkan adalah bagaimana sampah bisa tuntas di desa," tegas Dangi.
Menurutnya, Pemkab Cirebon akan memperkuat gerakan sosial melalui program Kampung Bersih. Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sampah sangat bergantung pada keterlibatan pemerintah desa dan masyarakat.
Itu karena, setiap desa yang akan menjalankan program tersebut harus menyiapkan lahan untuk hanggar pengolahan sampah, memiliki regulasi tingkat desa, serta berkomitmen menyediakan dukungan anggaran dan partisipasi masyarakat.
"Pemerintah desa harus siap dengan lahan, sharing anggaran, baik in-cash maupun in-kind, serta didukung regulasi yang jelas," katanya.
Selain itu, Dangi menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak dari rumah tangga. Menurutnya, teknologi pengolahan sampah tidak akan berjalan optimal apabila sampah tidak dipilah sejak dari sumbernya.
Dia menyebut, sebagai acuan Pemkab Cirebon akan mereplikasi model pengelolaan sampah mandiri yang telah berjalan di Desa Ciawigajah, Kecamatan Beber, dengan menyesuaikan karakteristik masing-masing wilayah.
"Melalui strategi ini Pemkab Cirebon menargetkan desa menjadi garda terdepan dalam pengelolaan sampah sehingga beban TPA berkurang dan persoalan sampah liar dapat ditekan secara bertahap," pungkasnya.
Editor : Doni Ramdhani

