Pemkot Cimahi Gandeng Masyarakat Tangani Sampah dengan Budidaya Maggot BSF
Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi tengah gencar mengembangkan sistem pengolahan sampah organik melalui budidaya larva lalat Black Soldier Fly (BSF)
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi tengah gencar mengembangkan sistem pengolahan sampah organik melalui budidaya larva lalat Black Soldier Fly (BSF) atau yang lebih dikenal dengan maggot.
Langkah itu dilakukan sebagai upaya inovatif dalam penanganan sampah di kota dengan tiga kecamatan itu.
Program yang digawangi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi ini tak hanya berpotensi mengurangi volume sampah secara signifikan, namun juga diharapkan mampu menciptakan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat serta menekan beban operasional Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Kepala DLH Kota Cimahi, Chanifah menjelaskan, pengolahan sampah berbasis maggot merupakan strategi berkelanjutan yang kini mulai diterapkan secara bertahap di beberapa wilayah kota tersebut.
Menurutnya, metode ini memiliki keunggulan dalam proses penguraian sampah organik yang relatif cepat.
"Pengolahan dengan maggot BSF mampu mengurai sampah organik dalam waktu singkat, dan yang lebih penting, menghasilkan produk bernilai guna seperti pakan ternak berkualitas serta pupuk organik yang dapat digunakan untuk pertanian," kata Chanifah, Kamis (2/4/2026).
Chanifah menilai, bahan baku utama untuk budidaya maggot berasal dari sampah organik rumah tangga dan pasar yang selama ini menjadi kontributor terbesar terhadap timbunan sampah di kota Cimahi.
Melalui proses budidaya yang terstandarisasi, lanjut dia, limbah tersebut diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual di pasaran.
"Selain membantu mengurangi jumlah sampah yang masuk ke TPA, program ini juga diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi ekonomi lokal," ujarnya.
"Jika dikembangkan secara optimal dan melibatkan lebih banyak pihak terkait, budidaya maggot berpotensi berkontribusi pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD)," tambahnya.
Saat ini, sebut Chanifah, sejumlah titik pengolahan maggot telah beroperasi dengan melibatkan kelompok masyarakat dan pengelola sampah lokal.
Ia juga menekankan, partisipasi aktif warga menjadi faktor kunci dalam menjaga keberlanjutan program tersebut.
"Inisiatif ini tidak hanya membuka peluang usaha baru bagi masyarakat, tetapi juga mendorong perubahan perilaku untuk lebih sadar dalam memilah sampah sejak dari sumbernya," ucapnya.
Ke depan, pihaknya menargetkan perluasan cakupan program budidaya maggot ke seluruh wilayah kota.
"Dengan dukungan lintas sektor, inovasi pengelolaan sampah ini diyakini mampu menjadi solusi jangka panjang yang ramah lingkungan sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi daerah," tandasnya. ***
Editor : JakaPermana

