Pendidikan Kewirausahaan Berbuah Nyata, 35 Bisnis Pelajar Cetak Omzet Ratusan Juta

Pembelajaran kewirausahaan yang diterapkan melalui praktik langsung, mulai menunjukkan hasil nyata di kalangan pelajar.

Pendidikan Kewirausahaan Berbuah Nyata, 35 Bisnis Pelajar Cetak Omzet Ratusan Juta
Pembelajaran kewirausahaan yang diterapkan melalui praktik langsung, mulai menunjukkan hasil nyata di kalangan pelajar.

INILAHKORAN.ID - Pembelajaran kewirausahaan yang diterapkan melalui praktik langsung, mulai menunjukkan hasil nyata di kalangan pelajar. Pada tahun pertama fase kedua Zurich Entrepreneurship Program (ZEP), sebanyak 35 bisnis yang dijalankan siswa SMA dan SMK berhasil mencatatkan omzet kolektif mencapai Rp339 juta.

Program yang dijalankan Zurich Indonesia, Z Zurich Foundation dan Prestasi Junior Indonesia tersebut telah menjangkau lebih dari 10.000 siswa di tujuh kota sejak Juli 2025. Selain membekali siswa dengan pengetahuan kewirausahaan, program mendorong peserta membangun dan mengelola usaha secara langsung sebagai bagian dari proses pembelajaran.

Country Manager Zurich Indonesia sekaligus Direktur Utama PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk, Edhi Tjahja Negara mengatakan, capaian tersebut menunjukkan siswa mampu mengembangkan keterampilan yang relevan ketika diberikan kesempatan belajar melalui pengalaman nyata.

“Kami percaya pada pendidikan yang membekali generasi muda dengan keterampilan praktis untuk kehidupan nyata. Melalui Zurich Entrepreneurship Program, kami ingin membantu siswa membangun kepercayaan diri, kemampuan membaca peluang dan pengambilan keputusan finansial yang lebih baik. Capaian tahun pertama ini, menunjukkan pembelajaran berbasis pengalaman dapat memberikan dampak nyata dan mempersiapkan generasi muda dalam membangun masa depan,” kata Edhi Tjahja Negara, Rabu (3/6/2026).

Melalui program tersebut, siswa tidak hanya belajar menyusun rencana bisnis. Tetapi juga menjalankan usaha mikro di lingkungan sekolah, mengelola pemasukan dan pengeluaran hingga memahami tantangan yang dihadapi dalam menjalankan sebuah usaha.

Pendekatan itu, menjadi bagian dari pembelajaran berbasis pengalaman yang mengintegrasikan kewirausahaan, literasi keuangan dan kesiapan kerja. Siswa diajak mengenali peluang usaha, mengembangkan produk atau layanan serta mengambil keputusan bisnis berdasarkan kondisi yang mereka hadapi secara langsung.

Selain aspek kewirausahaan, program juga memberikan pembelajaran mengenai penganggaran, menabung, investasi dan pemahaman terhadap risiko keuangan. Para peserta, turut mendapatkan paparan mengenai dunia profesional melalui sesi berbagi pengalaman bersama sukarelawan dari Zurich.

Head of Enabling Social Equity Z Zurich Foundation, Adriana Poglia menilai, keberhasilan program tersebut tidak terlepas dari kolaborasi berbagai pihak dalam memperluas akses pembelajaran yang relevan bagi generasi muda.

“Tahun pertama fase ini, menunjukkan bahwa dampak positif dapat semakin diperluas melalui kolaborasi. Ketika sekolah, pendidik, sektor swasta, pemerintah dan masyarakat sipil bekerja bersama. Semakin banyak generasi muda mendapatkan akses terhadap pembelajaran yang relevan, dan peluang untuk membangun masa depan mereka,” kata Adriana Poglia.

Implementasi program juga mendapat respons positif dari sekolah dan tenaga pendidik. Direktur Eksekutif indonesia.ja.org⁠, Utami Anita Herawati mengatakan, pembelajaran berbasis pengalaman semakin diminati karena mampu meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar.

“Implementasi Zurich Entrepreneurship Program, memberikan sinyal kuat bahwa pembelajaran berbasis pengalaman semakin diminati sekolah. Kami melihat guru secara aktif memperluas implementasi program karena siswa menjadi lebih terlibat ketika belajar melalui praktik langsung mulai dari membangun usaha, mengelola keuangan hingga memahami dunia kerja. Ketika pendekatan seperti ini diterapkan secara konsisten oleh guru, dampaknya tidak hanya terlihat pada tingginya partisipasi. Tetapi juga pada lahirnya pengalaman belajar yang lebih relevan, dan membantu siswa membangun keterampilan untuk masa depan,” kata Utami Anita Herawati.

Capaian omzet Rp339 juta dari 35 bisnis pelajar tersebut, menjadi salah satu indikator pendidikan kewirausahaan tidak hanya memberikan pemahaman teoritis. Tetapi juga membuka ruang bagi siswa mengasah kemampuan memecahkan masalah, bekerja sama dalam tim, berkomunikasi dan mengelola keuangan secara bertanggung jawab.

Melanjutkan capaian tersebut, fase kedua Zurich Entrepreneurship Program akan terus diperluas hingga 2028 dengan target menjangkau lebih banyak siswa di berbagai daerah. Sekaligus memperkuat kapasitas guru, dan keterlibatan sukarelawan dalam mendukung lahirnya generasi muda yang siap menghadapi dunia kerja maupun membangun usaha mereka sendiri.***


Editor : JakaPermana