Khawatir Risiko Bencana, Pemdes Jayamekar Minta PT GAN Perlebar Drainase dan DPT

Pemdes Jayamekar meminta pengembang perumahan G-Land and Savona Hill di Kampung Purabaya, KBB agar memperlebar drainase dan DPT untuk mengindari bencana banji

Khawatir Risiko Bencana, Pemdes Jayamekar Minta PT GAN Perlebar Drainase dan DPT

INILAHKORAN.ID – Pembangunan perumahan G-Land Savona Hill yang digarap PT Griya Adimitra Nusantara (GAN) di Kampung Purabaya RW 06, Desa Jayamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) tengah disorot pemerintah desa.

Dengan luas lahan mencapai 4.915 meter persegi, pekerjaan pemadatan dan penggalian tanah (cut and fill) yang tengah berlangsung menuai kekhawatiran serius terkait risiko lingkungan dan keamanan pemukiman warga di sekitarnya. 

"Kami dari Pemerintah Desa Jayamekar secara tegas meminta pengembang memprioritaskan pengamanan tanah dan perbaikan sistem drainase agar tidak memicu bencana maupun konflik sosial," kata Sekretaris Desa Jayamekar, Mono Mulyono, Rabu (3/6/2026).

Mono juga mengingatkan pengalaman di lapangan menunjukkan persoalan pembangunan perumahan sering kali bermula dari diabaikannya aspek keamanan lingkungan. 

Ia menyebutkan dua hal mutlak yang harus dilakukan pengembang, yakni segera membangun Drainase Penahan Tanah (DPT) setelah proses galian selesai, dan memaksimalkan kapasitas saluran air. Mengingat skala penggalian tanah yang cukup luas, pembangunan DPT harus didahulukan guna mencegah pergerakan tanah atau longsor yang bisa merugikan warga sekitar.

"Saya mewakili Pemerintah Desa Jayamekar menitip pesan tegas kepada PT Griya Adimitra Nusantara, tolong selesaikan pekerjaan ini secara tuntas. Jangan sampai hanya fokus pada pembangunan fisik perumahannya saja. Begitu tanah selesai digali dan dipadatkan, DPT harus langsung dibangun," sebutnya.

"Ini yang paling penting. Sering kali muncul keluhan atau konflik di masyarakat karena pengamanan lingkungan kurang maksimal, padahal wilayah ini sedang diubah bentuk tanahnya secara besar-besaran," ujarnya.

Mono menilai kapasitas saluran pembuangan air yang sangat tidak ideal dan berpotensi menjadi jebakan banjir. Menurutnya, berdasarkan peninjauan langsung, saluran air utama yang berada di bawah lokasi proyek tidak hanya melayani kawasan G-Land Savona Hill, namun juga menjadi satu kesatuan aliran dengan perumahan Citra Padalarang, wilayah RW 20, hingga pemukiman warga di hilir. 

Masalah utamanya, sambung dia, lebar saluran tersebut hanya sekitar 50 sentimeter, jauh dari standar aman untuk menampung debit air dari area seluas hampir 5.000 meter persegi.

"Kondisinya sangat tidak seimbang. Di atas kita membuka lahan luas, tapi pembuangan ke bawahnya sempit. Saluran utama di pinggir jalan kabupaten itu lebarnya cuma 50 sentimeter, padahal kedalamannya sudah cukup sekitar 1 meter," jelasnya.

"Logikanya, debit air hujan yang turun dari atas akan sangat besar, tapi muaranya kecil. Ini ibarat corong terbalik, pasti akan meluap kalau hujan deras turun," imbuhnya.

Agar aman dan berfungsi baik, lanjut Mono, saluran air tersebut wajib diperlebar minimal dua kali lipat menjadi 1 meter. Tanpa peningkatan kapasitas ini, risiko genangan hingga banjir di pemukiman warga di bawah lokasi proyek sangat tinggi. 

Ia menegaskan, pemerintah desa tidak ingin pembangunan perumahan yang ditujukan untuk peningkatan kesejahteraan justru mendatangkan bencana bagi warga lama.

"Kami minta pengembang sadar, saluran ini adalah tanggung jawab bersama karena mengalir melewati wilayah umum. Kalau tidak diperlebar, warga yang tinggal di hilir yang akan menanggung akibatnya," paparnya.

"Kami akan terus memantau dan memastikan DPT selesai dan drainase diperbaiki sebelum proyek dinyatakan selesai. Keamanan lingkungan tidak boleh ditawar," tandas Mono.


Editor : Ahmad Sayuti