Perajin Jamblang Bertahan dalam Gempuran
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Maman Suharman
INILAH, Cirebon- Gempuran mainan modern dan permainan digital tak membuat perajin mainan tradisional di Desa Jamblang, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon menyerah.
Mereka tetap bertahan memproduksi mainan secara manual sekaligus menjaga keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun.
Salah satunya Suhendra, perajin di Blok Tegalan, Desa Jamblang. Bersama lima warga sekitar, ia masih memproduksi berbagai mainan tradisional berbentuk ayam, barongsai hingga naga.
Menariknya, sebagian bahan yang digunakan berasal dari sisa material industri seperti busa, kain dan benang yang masih layak serta aman digunakan. Bahan tersebut kemudian diolah menjadi produk bernilai ekonomi.
“Di sini memang sudah turun-temurun membuat mainan tradisional. Bahan-bahannya banyak memanfaatkan limbah industri,” kata Suhendra, Rabu 9 September 2026.
Berbeda dengan industri mainan modern yang menggunakan mesin dan diproduksi secara massal, seluruh proses pembuatan mainan di tempat Suhendra masih mengandalkan keterampilan tangan.
Prosesnya dimulai dari memotong busa, menyiapkan kain dan benang, menjahit, merakit hingga memberikan warna. Menurut Suhendra, pekerjaan tersebut membutuhkan ketelitian agar bentuk mainan sesuai dengan yang diinginkan.
“Semua masih dibuat secara konvensional. Jadi memang membutuhkan ketelitian dan kecepatan,” ujarnya.
Dalam waktu sekitar satu minggu, Suhendra bersama lima pekerjanya mampu menghasilkan kurang lebih tiga kodi atau sekitar 60 mainan.
Mainan tersebut dijual dengan harga sekitar Rp10 ribu per buah. Meski harus bersaing dengan berbagai produk mainan modern, produk buatan perajin Jamblang masih memiliki pasar.
Pesanan tidak hanya datang dari wilayah Cirebon, tetapi juga telah menjangkau sejumlah daerah lain di Indonesia.
Namun, Suhendra mengakui mempertahankan mainan tradisional bukan perkara mudah. Perubahan kebiasaan anak-anak yang semakin dekat dengan mainan elektronik dan permainan digital menjadi tantangan tersendiri bagi para perajin.
Karena itu, inovasi terus dilakukan. Bentuk dan tampilan produk dikembangkan agar tetap menarik bagi konsumen tanpa menghilangkan karakter tradisionalnya.
“Harapannya mainan tradisional ini tetap bertahan dan tidak kalah dengan mainan modern. Kami akan terus mencoba membuatnya menarik, tetapi nilai tradisionalnya tetap dipertahankan,” tutur Suhendra.
Editor : Inilahkoran

