PERSIB 2-1 PERSIJA: Sportivitas di atas Rivalitas

PERSIB 2-1 PERSIJA: Sportivitas di atas Rivalitas

Oleh : Muhammad Ginanjar

SEMIFINAL Piala Presiden 2026 antara Persib vs Persija telah memberi pelajaran berharga tentang nilai-nilai sportivitas yang harus selalu berada jauh di atas rivalitas.

Persib meladeni sang musuh abadi, Persija dalam semifinal di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Selasa (4/8) sore WIB.

Bagi gelaran Piala Presiden, ini adalah sejarah baru yang begitu istimewa.

Untuk pertama kalinya sejak digelar 2015 silam, duel-duel semifinal bakal mempertarungkan 4 klub legendaris di kancah tertinggi sepak bola Indonesia.

Laga Persib vs Persija jadi sorotan mengingat rivalitas kedua tim yang sudah terbangun selama puluhan tahun. Laga klasik ini untuk pertama kalinya berlangsung di ajang Piala Presiden.

Dan seperti diprediksi sebelumnya, duel bertajuk El Clasico Indonesia ini berlangsung dalam tensi tinggi. Kedua tim bermain ngotot demi lolos ke laga puncak.

Pada akhirnya, Persib menang 2-1 melalui sebuah pertarungan alot. Namun di balik itu semua, sorotan justru mengarah pada kebesaran hati kedua kubu dalam menghidupkan nilai-nilai fair play di lapangan.

Bukan hanya para pemain yang mampu mengendalikan emosi, tetapi juga pelatih, ofisial, hingga perangkat pertandingan menunjukkan jika laga Persib kontra Persija bisa berlangsung kompetitif tanpa diwarnai keributan.

Sepanjang 90 menit pertandingan, duel berlangsung keras namun tetap sportif. Tidak terlihat keributan antarpemain, aksi saling dorong berlebihan ataupun protes yang berlebihan kepada wasit.

Kedua tim lebih memilih menjawab tantangan lewat permainan di lapangan.

Kinerja perangkat pertandingan pun layak mendapat apresiasi. Wasit asal Jepang, Yudai Yamamoto, memimpin pertandingan dengan tegas dan konsisten.

Didukung teknologi Video Assistant Referee (VAR), setiap keputusan penting dapat diambil secara objektif sehingga pertandingan berjalan lancar hingga peluit panjang dibunyikan.

Pelatih Persib, Igor Tolic, lebih banyak berbicara mengenai pentingnya melindungi pemain dibanding membahas kemenangan timnya.

Menurutnya, kualitas turnamen sudah mengalami peningkatan dibanding edisi sebelumnya.

“Namun, jika kita ingin kualitas tim meningkat, maka semua aspek penyelenggaraan juga harus ikut menjadi lebih baik,” ujar Igor usai pertandingan.

Pelatih asal Kroasia ini lantas aturan FIFA yang mewajibkan setiap tim memiliki waktu pemulihan minimal 72 jam antarlaga.

Menurutnya, aturan tersebut dibuat untuk menjaga kesehatan fisik dan mental pemain.

Menariknya, kritik yang disampaikan Igor tidak hanya ditujukan untuk kepentingan Persib. Ia menegaskan berbicara atas nama seluruh pemain yang tampil di Piala Presiden, termasuk pemain Persija, Persebaya, dan Arema FC.

“Saya merasa harus melindungi para pemain dan menjaga kesehatan mereka.

Bayangkan jika dalam dua hari ke depan ada pemain yang mengalami serangan jantung akibat kelelahan. Siapa yang akan bertanggung jawab?,” tuturnya.

Sementara itu, pelatih Persija, Shin Tae-yong, menunjukkan sikap sportif dengan memberikan ucapan selamat kepada Persib atas kemenangan mereka.

Pelatih asal Korea Selatan itu mengakui timnya belum tampil dengan kekuatan terbaik. Menurutnya, banyak pemain Persija belum berada dalam kondisi ideal dan hanya berada di kisaran 30 hingga 40 persen kebugaran.

Meski kecewa dengan hasil pertandingan, Shin tetap menghormati seluruh keputusan wasit dan memilih menjadikan kekalahan ini sebagai bahan evaluasi untuk mempersiapkan tim menghadapi kompetisi resmi. (bsf)


Editor : Inilahkoran