Polda Jabar Bangun Unit Ketiga Solar Dryer Home Presisi di KBB

Biro SDM Polda Jabar bersama IPB University mulai membangun unit ketiga solar dryer home di Desa Rende, Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Polda Jabar Bangun Unit Ketiga Solar Dryer Home Presisi di KBB
Fasilitas solar dryer home sebagai pengering jagung bertenaga surya yang dibangun di KBB merupakan bagian dukungan POlda Jabar terhadap Program Ketahanan Pangan Nasional. (istiemwa)

INILAHKORAN.ID - Biro SDM Polda Jabar bersama IPB University mulai membangun unit ketiga solar dryer home di Desa Rende, Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat (KBB). 

Fasilitas pengering jagung bertenaga surya tersebut merupakan bagian dari dukungan terhadap Program Ketahanan Pangan Nasional.

Pembangunan dimulai pada 11 Juni 2026 dan ditargetkan rampung pada 19 Juni 2026. Nantinya, fasilitas tersebut akan dimanfaatkan oleh Kelompok Tani Kiwari untuk mendukung proses pascapanen jagung.

Sebelumnya, dua unit solar dryer home telah dibangun di Kabupaten Subang dan Kabupaten Indramayu.

Kepala Biro SDM Polda Jabar Kombes Pol Fadly Samad mengatakan, pembangunan fasilitas tersebut merupakan bentuk dukungan Polri terhadap program strategis nasional di sektor pangan.

“Ketahanan pangan menjadi salah satu prioritas nasional yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor agar hasilnya dapat dirasakan secara nyata oleh para petani,” kata Fadly, Kamis (11/6/2026).

Menurutnya, Polri tidak hanya berperan menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga mendukung program pemerintah yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.

Sementara itu, AKBP Candra Sasongko yang mengoordinasikan implementasi Program Ketahanan Pangan Polda Jabar menyebut kolaborasi dengan IPB menjadi langkah penting dalam menghadirkan solusi berbasis teknologi bagi petani.

Dia berharap teknologi tersebut dapat diterapkan di berbagai daerah sentra produksi jagung untuk membantu meningkatkan kualitas hasil panen.

Fasilitas solar dryer home merupakan bangunan pengering jagung berukuran 6x8 meter yang memanfaatkan energi panas matahari sebagai sumber utama pengeringan. 

“Teknologi ini menggunakan prinsip efek rumah kaca untuk menghasilkan suhu yang lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitar sehingga proses pengeringan berlangsung lebih cepat,” kata dia.

Bangunan tersebut juga dilengkapi sistem ventilasi dan blower guna mendukung sirkulasi udara saat kondisi cuaca kurang mendukung.

Dalam satu siklus pengeringan, fasilitas tersebut mampu menampung sekitar 1 hingga 2 ton jagung pipilan dengan waktu pengeringan sekitar dua hingga tiga hari. Waktu tersebut lebih singkat dibandingkan metode penjemuran konvensional yang dapat memakan waktu hingga satu minggu.

Sedangkan, Dosen IPB University Tjahja mengatakan inovasi tersebut dikembangkan untuk menjawab kebutuhan petani yang selama ini menghadapi keterbatasan fasilitas pengering pascapanen.

Menurutnya, keterlambatan proses pengeringan dapat meningkatkan risiko tumbuhnya jamur dan kandungan aflatoksin yang berpotensi menurunkan kualitas jagung.

“Kami berupaya menghadirkan alternatif teknologi pengeringan yang murah, mudah dibangun, dan dapat dioperasikan langsung oleh kelompok tani sehingga permasalahan pascapanen dapat diminimalkan,” ujarnya.

Kehadiran fasilitas tersebut disambut positif petani setempat. Kelompok Tani Kiwari berharap solar dryer home  dapat membantu menjaga kualitas hasil panen, terutama saat musim hujan ketika proses pengeringan sering terkendala cuaca.

Polda Jabar berharap inovasi tersebut dapat menjadi model pengelolaan pascapanen yang dapat direplikasi di berbagai daerah sentra jagung guna mendukung peningkatan produktivitas pertanian dan memperkuat ketahanan pangan nasional.


Editor : Doni Ramdhani