PTPN 1 Regional 2 Siap Tanami Kembali Lahan Kosong, Libatkan Masyarakat Penggarap

PTPN 1 Regional 2 akan memanam kembali lahan kosong atau yang digarap oleh masyarakat untuk hindari terjadinya penyerobotan

PTPN 1 Regional 2 Siap Tanami Kembali Lahan Kosong, Libatkan Masyarakat Penggarap
Regional Head PTPN 1 Regional 2, Desmanto

INILAHKORAN.ID - PTPN 1 Regional 2 berencana melakukan penanaman kembali di sejumlah lahan perkebunan yang saat ini kosong maupun masih digarap masyarakat. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya optimalisasi lahan sekaligus mencegah terjadinya penyerobotan aset negara.

Regional Head PTPN 1 Regional 2, Desmanto mengatakan, pihaknya akan mengedepankan pendekatan persuasif dengan melibatkan masyarakat penggarap dalam program penanaman kembali komoditas perkebunan.

“Kita ke depan akan berkoordinasi lagi dengan masyarakat penggarap untuk kita tanami kembali komoditi perkebunan. Terutama tanaman kopi, karena sekarang harga kopi juga bagus,” kata Desmanto, Rabu (11/3/2026).

Menurutnya, dengan produktifnya lahan perkebunan tersebut nantinya juga akan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Para penggarap yang selama ini mengelola lahan akan dilibatkan sebagai tenaga kerja dalam pengelolaan perkebunan.

“Jadi yang mudah kita libatkan masyarakat penggarap, kita pekerjakan di situ. Termasuk di kawasan Malabar, Pangalengan, masyarakat penggarap juga kita pekerjakan di area yang ditanami komoditi perkebunan. Jadi ini win-win solution,” ujarnya.

Selain penguatan ekonomi masyarakat, langkah penanaman kembali juga dilakukan untuk menjaga aset negara. Desmanto menegaskan, lahan perkebunan yang masa Hak Guna Usahanya (HGU) habis tidak otomatis dapat dibagikan kepada masyarakat.

Ia menjelaskan, lahan tersebut tetap merupakan aset negara yang dahulu dibebaskan melalui proses nasionalisasi dan tercatat sebagai kekayaan negara.

“Kita sampaikan bahwa lahan negara yang mati HGU-nya itu tidak serta-merta dibagi-bagikan kepada masyarakat. Itu tetap milik negara dan kami memiliki prioritas untuk mendapatkan izin ketika dilakukan perpanjangan HGU,” ujarnya.

Karena itu, ia mengajak masyarakat penggarap untuk bekerja sama dengan PTPN dalam mengelola kembali lahan perkebunan secara produktif.

“Ayo sama-sama kita tanami kembali komoditi perkebunan. Yang terdampak dari garapan ini kami ajak bekerja sama, sehingga bisa membuka lapangan kerja baru dan juga memberikan pendapatan bagi negara,” katanya.

Desmanto mengakui, wilayah yang paling rawan terhadap penyerobotan lahan berada di kawasan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Di wilayah tersebut terdapat tiga kebun dengan total luas hampir 6.000 hektar, dan sekitar 3.000 hektar di antaranya saat ini telah digarap masyarakat.

“Kalau yang paling rawan saya kira di Pangalengan. Ada tiga kebun di situ hampir 6.000 hektar dan sekitar 3.000 hektar hampir seluruhnya garapan masyarakat,” ujarnya.

Meski demikian, pihaknya tetap mengedepankan pendekatan persuasif agar masyarakat dapat memahami pentingnya pengelolaan kembali lahan tersebut oleh negara.

Salah satu penyebab terjadinya penggarapan lahan, kata Desmanto, karena sebelumnya terdapat komoditas kina yang ditebang. Setelah penebangan, lahan sempat tidak tertanami sehingga akhirnya dimanfaatkan masyarakat untuk bertani.

“Dulu ada komoditi kina. Setelah ditebang kayunya dijual dan kita kesulitan menanam kembali, akhirnya lahan kosong dan masyarakat masuk menggarap selama bertahun-tahun,” katanya.

Saat ini sebagian besar penggarap menanam tanaman sayuran yang memiliki masa panen singkat. Namun, pola tanam tersebut dinilai berdampak terhadap lingkungan, terutama di kawasan dataran tinggi yang memiliki topografi miring.

Akibatnya, kawasan tersebut rentan terhadap erosi, banjir, hingga longsor karena tidak adanya tanaman keras yang mampu menahan tanah.

“Karena yang ditanam sayuran, tanaman kerasnya tidak ada. Di dataran tinggi dengan topografi miring itu berpotensi menyebabkan erosi, banjir dan longsor di wilayah bawah,” ujarnya.

Ke depan, PTPN akan menyesuaikan komoditas perkebunan dengan kondisi wilayah. Untuk kawasan dataran tinggi akan ditanami kopi dan teh, sementara dataran rendah akan dikembangkan tanaman kelapa.

Menurut Desmanto, tanaman seperti kopi dan teh memiliki sistem perakaran yang kuat dan populasi tanaman yang rapat sehingga mampu menahan erosi.

“Misalnya di dataran tinggi kita tanami kopi dan teh. Dengan populasi hampir dua ribu pohon per hektare, itu akan membantu mencegah erosi dan banjir,” katanya.

Sementara di dataran rendah, tanaman kelapa dipilih karena memiliki nilai ekonomi yang baik dan berpotensi untuk ekspor.

PTPN juga berencana melibatkan masyarakat dalam proses penanaman komoditas tersebut sehingga tercipta sirkulasi ekonomi baru di kawasan perkebunan.

“Kelapa juga bagus harganya dan diekspor. Masyarakat akan kita libatkan untuk menanam, kemudian hasilnya nanti kita tampung dan kita beli dengan harga terbaik. Jadi akan tercipta sirkulasi ekonomi baru dibandingkan lahan yang sekarang masih kosong,” katanya. 


Editor : Ahmad Sayuti