Puasa 12 Jam untuk Turunkan Berat Badan, Benarkah Efektif?

Puasa 12 jam populer untuk menurunkan berat badan. Benarkah efektif? Simak manfaat, cara kerja, serta siapa yang perlu berhati-hati

Puasa 12 Jam untuk Turunkan Berat Badan, Benarkah Efektif?

INILAHKORAN.ID – Puasa selama 12 jam atau lebih, yang dikenal sebagai time-restricted eating, semakin populer sebagai salah satu cara menurunkan berat badan

Namun, penelitian menunjukkan manfaat pola makan ini untuk penurunan berat badan mungkin tidak sebesar yang selama ini banyak diklaim.

Meski begitu, memberi jeda lebih panjang antara waktu makan tetap berpotensi memberikan manfaat lain bagi kesehatan.


Setelah sekitar 10 hingga 12 jam tanpa asupan makanan, tubuh mulai mengalami perubahan dalam penggunaan energi.

Ketika pasokan glukosa dari makanan berkurang, tubuh dapat meningkatkan penggunaan lemak sebagai sumber energi. Proses perubahan penggunaan sumber energi ini dikenal sebagai metabolic switching.

Jeda makan juga memberikan waktu bagi tubuh untuk mengatur kembali proses penggunaan dan penyimpanan energi.

Namun, perubahan metabolisme tersebut tidak otomatis berarti berat badan akan turun. Penurunan berat badan tetap sangat dipengaruhi oleh pola makan secara keseluruhan, jumlah energi yang dikonsumsi, aktivitas fisik, serta faktor lainnya.

Sejumlah penelitian menunjukkan pola time-restricted eating berpotensi memberikan manfaat terhadap beberapa aspek kesehatan.

Beberapa di antaranya berkaitan dengan sensitivitas insulin, kadar lemak dalam darah, kesehatan jantung, dan mikrobioma usus.

Puasa berkala juga diduga memiliki kaitan dengan pengendalian peradangan kronis. Namun, bukti ilmiah mengenai manfaat tersebut masih terus berkembang sehingga belum cukup untuk menyimpulkan bahwa puasa pasti memberikan manfaat yang sama bagi semua orang.

Selain lamanya jeda makan, waktu mengonsumsi makanan juga menjadi perhatian dalam penelitian mengenai time-restricted eating.

Menghindari makan dalam jumlah besar pada larut malam dinilai dapat lebih sesuai dengan ritme alami tubuh dibandingkan mengonsumsi makanan berat ketika tubuh seharusnya mulai beristirahat.

Karena itu, pola makan bukan hanya soal berapa lama seseorang berpuasa, tetapi juga kapan waktu makan dilakukan dan apa yang dikonsumsi.

Manfaat puasa sering kali terdengar lebih besar daripada bukti ilmiahnya.

Sebagian penelitian masih memiliki skala kecil atau dilakukan pada hewan, sehingga hasilnya belum tentu dapat diterapkan secara langsung pada manusia.

Selain itu, belum ada satu pola puasa yang terbukti paling cocok untuk semua orang.

Bagi orang dewasa yang sehat, memberi jeda sekitar 12 jam antara makan malam dan sarapan dapat menjadi kebiasaan sederhana yang mungkin membantu mengatur pola makan.

Namun, puasa 12 jam tidak otomatis membuat seseorang lebih sehat atau pasti menurunkan berat badan.

Kualitas makanan tetap menjadi faktor penting. Begitu pula dengan aktivitas fisik, tidur yang cukup, dan pola hidup secara keseluruhan.

Pola puasa tidak cocok untuk semua orang. Orang dengan berat badan terlalu rendah atau memiliki riwayat gangguan makan sebaiknya tidak menjalankan pola puasa tanpa pendampingan yang tepat.

Sementara itu, penderita diabetes dan orang dengan kondisi medis tertentu sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum mencoba time-restricted eating.

Pada akhirnya, puasa 12 jam sebaiknya dipandang sebagai salah satu pilihan pola makan, bukan solusi ajaib untuk menurunkan berat badan.

Sumber: BBC


Editor : Ahmad Sayuti