Puluhan Tahun Tertimbun Longsor, Sumber Mata Air Cipanas Ternyata Ditemukan Tak Jauh dari Kantor Pemda KBB
Puluhan Tahun Tertimbun Longsor, Sumber Mata Air Cipanas Ternyata Ditemukan Tak Jauh dari Kantor Pemda KBB
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Ngamprah - Kabupaten Bandung Barat (KBB) memiliki sejuta potensi wisata alam yang masih tersembunyi. Salah satunya sumber mata air panas yang berlokasi di Desa Cimanggu Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat.
Sempat menjadi primadona di tahun 1980 an, sumber mata air panas di Cimanggu hilang tertimbun tanah.
Kendati demikian, berkat inisiatif Karang Taruna dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Cimanggu yang dibentuk Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) KBB, mata air panas Cimanggu kembali ditata.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) KBB Heri Partomo mengatakan, soal lokasi sumber mata air panas ini berawal dari komunikasi antara dirinya dengan Karang Taruna Desa Cimanggu bahwa di wilayahnya ada sumber mata air panas.
"Dari situ kita coba dorong agar sumber mata air panas ini bisa berkembang dan dimanfaatkan menjadi salah satu daya tarik wisata yang ada di Desa Cimanggu, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat," katanya kepada INILAH, Selasa (3/8/2021).
Menurutnya, dengan potensi yang ada ini, pihaknya melihat peluang untuk memanfaatkan mata air panas tersebut untuk menjadi destinasi wisata lantaran lokasinya tidak jauh dari Kantor Pemda Bandung Barat.
"Jaraknya yang cukup dekat dengan ibukota kabupaten, kenapa tidak itu menjadi salah satu nilai jual bahwa di KBB ada sumber mata air panas," tuturnya.
Heri menjelaskan, jika lokasi tersebut ditata dengan baik kemungkinan bisa mengalahkan wisata air panas yang ada di Ciwidey, bahkan di Ciater.
"Kita dorong teman-teman karang taruna untuk mengembangkan wisata air panas ini agar bisa ditata lebih baik," jelasnya.
Heri mengaku, saat ini pihaknya terus melakukan pengembangan destinasi wisata, termasuk melakukan pembinaan terhadap kelompok sadar wisata (Pokdarwis) yang ada di daerah wisata Bandung Barat.
"Kita dorong karang taruna untuk melakukan pembentukan Pokdarwis, yang saat ini telah banyak terbentuk di KBB," ucapnya.
Heri menilai, hal ini perlu dilakukan dilakukan agar Disparbud bisa lebih mudah melaksanakan pembinaan lantaran pengembangan pariwisata melalui Pokdarwis ada di Disparbud.
"Saat ini kita terus lakukan monitoring tentang rencana penataan selanjutnya. Karena untuk sumber mata air panas ini salah satu modal dasarnya lantaran berlokasi di tanah carik desa," ujarnya.
Heri menerangkan, lokasi wisata yang berada di tanah carik desa itu tidak akan terlalu sulit untuk ditata. Pasalnya, hal ini bisa bermanfaat untuk pemberdayaan masyarakat setempat.
"Dengan demikian hal ini bisa menghidupkan perekonomian warga untuk ke depannya," terangnya.
Sementara itu, Ketua Pokdarwis Desa Cimanggu Rosita Lesmana mengungkapkan, pihaknya sangat bersemangat untuk mengembangkan sumber mata air panas yang ada di Desa Cimanggu.
"Berkat ada dukungan dari pemda, kami kembali bersemangat untuk mengembangkan potensi wisata ini," ungkapnya.
Sebetulnya, kata Rosita, Sumber Air Panas ini banyak dulunya sering didatangi banyak pengunjung, terlebih di malam hari banyak yang sengaja mandi atau berendam.
"Dulu kalau yang datang itu biasanya di bulan Mulud, kalau kata orang tua dulu Ngabungbang (menyucikan diri) atau mandi tengah malam," katanya.
"Sekitar tahun 1980an, sumber mata air panas ini banyak didatangi pengunjung, mungkin karena masih kuat kepercayaan terhadap leluhur," sambungnya.
Kendati demikian, lanjut Rosita, semenjak air panas tidak mengalir, pengunjung sudah tidak ada.
Ia menyebut, alasan tidak mengalirnya sumber mata air panas tersebut bisa jadi karena tersumbat lantaran tidak adanya pemeliharaan.
Rosita menyebut, sumber panas mata air tersebut kemungkinan berasal dari Gunung Tangkuban Perahu lantaran lokasinya gunung api terdekat dari Cimanggu.
"Seingat saya airnya dari dulu juga sudah panas," sebutnya.
Rosita menyayangkan sumber mata air panas tersebut tidak terpelihara dengan baik, bahkan hingga sempat tertimbun longsor.
"Dulu banyak yang datang, tapi karena tertimbun longsor jadi tidak ada sama sekali," tandasnya. (Agus SN)
Editor : Ghiok Riswoto

