Ratusan Ribu Liter Air Dibutuhkan, 31 Titik Kota Bandung Masuk Zona Rawan Kekeringan
Fenomena El Nino yang dijuluki “Godzilla” diperkirakan akan memperpanjang musim kemarau, dan meningkatkan potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Fenomena El Nino yang dijuluki “Godzilla” diperkirakan akan memperpanjang musim kemarau, dan meningkatkan potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah termasuk Kota Bandung. Kondisi itu, membuat pemerintah daerah mulai memperketat pemantauan terhadap daerah-daerah yang rawan Kekeringan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung mencatat, sedikitnya 31 titik di beberapa kelurahan yang berpotensi mengalami krisis air bersih. Titik-titik tersebut, merupakan wilayah yang berdasarkan catatan sebelumnya kerap kesulitan mendapatkan suplai air saat musim kemarau berlangsung.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Bandung, Didi Ruswandi menjelaskan, saat ini pihaknya masih melakukan verifikasi lapangan memastikan tingkat kerentanan setiap lokasi. Proses itu dilakukan agar bantuan air bersih yang disalurkan nantinya lebih tepat sasaran.
“Yang sedang kami lakukan sekarang, adalah pengecekan ulang lokasi-lokasi yang dalam beberapa tahun terakhir memang sering mengalami kekurangan air bersih ketika kemarau,” kata Didi Ruswandi, Rabu (10/6/2026).
Dari hasil pendataan sementara, Kelurahan Maleber menjadi wilayah dengan jumlah titik rawan terbanyak yakni 14 titik. Disusul Kelurahan Ciroyom dengan delapan titik, Cempaka dengan tiga titik dan Garuda dengan satu titik. Sbaran itu akan terus diperbarui seiring hasil verifikasi di lapangan.
Menurut Didi, kebutuhan air bersih di seluruh titik tersebut diperkirakan mencapai sekitar 75.480 liter per hari. Angka itu masih bersifat sementara, karena kebutuhan tiap wilayah berbeda tergantung jumlah penduduk dan ketersediaan sumber air lokal.
“Di beberapa lokasi, warga masih memiliki akses air untuk mandi dan mencuci. Tetapi untuk air minum, dan kebutuhan dasar lainnya sudah sangat terbatas. Ini yang sedang kami petakan lebih rinci,” ucapnya.
Jika seluruh kebutuhan tersebut harus dipenuhi menggunakan armada tangki air, biaya operasional yang dibutuhkan diperkirakan mencapai sekitar Rp31 juta per hari. Namun, pihaknya menegaskan perhitungan tersebut masih dapat berubah setelah proses pendataan selesai.
Selain penanganan darurat berupa distribusi air bersih, pemerintah kota juga mulai menyiapkan langkah jangka menengah. Salah satunya adalah rencana pengeboran sumur di beberapa titik yang dianggap potensial sebagai sumber air baru.
"Saat ini, tim gabungan masih melakukan survei lokasi termasuk kemungkinan keterlibatan dukungan teknis dari TNI," ujar dia.
Di sisi lain, upaya mitigasi jangka panjang juga dilakukan melalui program penghijauan. BPBD Kota Bandung bekerja sama dengan organisasi pecinta alam Wanadri melakukan penanaman pohon di kawasan Bandung Timur dan Bandung Utara. Kedua wilayah tersebut, dipilih karena memiliki peran penting sebagai daerah resapan air.
Berdasarkan data yang dihimpun bersama Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP), terdapat lebih dari 100 hektare lahan yang telah diidentifikasi berpotensi kegiatan reboisasi. Lahan tersebut, saat ini masih dalam tahap survei menentukan titik tanam yang paling efektif.
“Harapan kami selain penanganan darurat, ada juga langkah pencegahan jangka panjang agar cadangan air tanah tetap terjaga. Karena kalau kemarau panjang benar-benar terjadi, dampaknya bisa lebih luas,” jelasnya.
Didi menargetkan sejumlah program mitigasi tersebut, mulai berjalan bertahap dalam beberapa bulan ke depan seiring meningkatnya potensi dampak El Nino “Godzilla” yang diprediksi akan memengaruhi pola cuaca di wilayah Jawa Barat.***
Editor : JakaPermana


