Jelang Ramadhan, Masjid Bani Solan Diharapkan Jadi Pusat Syiar Islam dan Kreativitas di Magetan

Masjid Bani Solan diresmikan di Magetan. Berlokasi di Jalan Raya Magetan-Maospati, Sukomoro, Jawa Timur, masjid itu menjadi ikon anyar.

Jelang Ramadhan, Masjid Bani Solan Diharapkan Jadi Pusat Syiar Islam dan Kreativitas di Magetan
Ketua Yayasan Masjid Bani Solan Siti Choiriana mengharapkan Masjid Bani Solan menjadi pusat syiar Islam dan kreativitas di Magetan.

INILAHKORAN, Bandung - Masjid Bani Solan diresmikan di Magetan. Berlokasi di Jalan Raya Magetan-Maospati, Sukomoro, Magetan, Jawa Timur, masjid itu menjadi ikon anyar.

Ketua Yayasan Masjid Bani Solan Siti Choiriana mengatakan, masjid dengan arsitektur unik seluas 2.500 meter persegi ini nantinya akan menjadi pusat syiar Islam, edukasi, creative hub, dan pusat kegiatan kemasyarakatan lainnya.

Masjid Bani Solan yang juga disebut sebagai masjid nasional Indonesia itu diresmikan Bupati Magetan Suprawoto serta jajaran tokoh masyarakat, kyai, serta keluarga Siti Choiriana. Dia bersyukur cita-citanya membangun masjid akhirnya terlaksana, sebagaimana amanat mendiang ayahnya.

Baca Juga: Ramadan Tahun Ini. Pemkab KBB Perbolehkan Salat Tarawih Berjamaah di Masjid

"Alhamdulillah, akhirnya pembangunan masjid di Magetan ini rampung dan bisa digunakan. Masjid Bani Solan ini saya dedikasikan bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk semua golongan, dari anak hingga dewasa dan warga manapun. Jadi tidak ada untuk golongan atau ormas tertentu. Ini milik kita semua," kata Siti Choiriana, Minggu 27 Maret 2022.

Menurutnya, Masjid Bani Solan itu letaknya cukup strategis, di jalan Raya Magetan-Maospati. Bentuk masjid cukup unik berbentuk mirip topi dengan warna khas cokelat, menggabungkan unsur modern dan tradisional. Masjid cukup nyaman dilengkapi taman, publik area, parkir, dan lainnya.

Didesain arsitek muda berbakat dengan gaya milenial style, fasad masjid dikolaborasikan dengan gaya timur tengah dan dikombinasi Eropa dan tradisional. Masjid Bani Solan dibangun menggunakan bahan-bahan lokal seperti batu bata dan kayu.

Baca Juga: Keutamaan Sholat Berjamaah di Masjid, Ustadz Syafiq Riza Basalamah: Sahabat Rasulullah Mencontohkan

Wanita yang akrab disapa Ana itu menuturkan, masjid ini dibangun dari cita-cita luhur akan persatuan Indonesia dengan merujuk pada konsep connectivity, community, content, and creativity. Aspek connectivity dan community dimaksudkan bahwa masjid ini sebagai pusat berkumpul masyarakat untuk berkegiatan dan silaturahmi. Aktivitas di masjid ini tak memandang, suku, ras, golongan, atau organisasi tertentu.

"Selama dia masuk masjid, ya silahkan melakukan kegiatan tanpa melihat golongan tertentu. Masyarakat bisa menggunakan untuk meeting point, silaturahmi, hingga rest area bagi kendaraan, bus atau musafir yang sedang melakukan perjalanan. Boleh berhenti di sini untuk istirahat," bebernya.

Selain itu, warga sekitar yang akan menggelar kegiatan juga bisa memanfaatkan masjid ini. Seperti untuk wisuda anak sekolah, pernikahan, acara keagamaan, dan aktivitas lainnya.

Baca Juga: Alhamdulillah, Kini Salat Berjamaah di Masjid Tak Harus Jaga Jarak

Sedangkan, konsep content and creativity dimaksudkan masjid ini menjadi pusat creative hub. Masyarakat bisa mendalami ilmu agama, perpustakaan mimi, hingga small cafe sebagai pusat ekonomi.

Ada tiga orang anak muda hafiz Quran yang akan membimbing agama bagi warga. Anak-anak bisa belajar membaca Alruran, menjadi tahfiz, dan lainnya. Mereka juga akan full berada di masjid ini untuk memandu shalat lima waktu dan kegiatan lainnya seperti shalat tarawih dan shalat Jumat.

"Harapan saya, anak muda bisa memanfaatkan masjid ini untuk menyalurkan kreativitas mereka. Anak muda bisa berkumpul, sharing, membangun ide baru, dan menyalurkan kreativitas mereka di sini," kata Ana. (*)


Editor : inilahkoran