Relawan Mogok, Sampah Menumpuk di TPS, DLH Tasikmalaya: Pengangkutan Normal Bertahap

DLH Kota Tasikmalaya meminta maaf kepada masyarakat atas terjadinya penumpukan sampah di sejumlah TPS akibat aksi mogok massal relawan pengangkut sampah.

Relawan Mogok, Sampah Menumpuk di TPS, DLH Tasikmalaya: Pengangkutan Normal Bertahap
DLH Kota Tasikmalaya melakukan berbagai langkah darurat. Salah satunya dengan meminjam alat berat ekskavator dari Dinas Pekerjaan Umum.

INILAHKORAN.ID - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tasikmalaya meminta maaf kepada masyarakat atas terjadinya penumpukan sampah di sejumlah TPS akibat aksi mogok massal relawan pengangkut sampah selama tiga hari.

Plh Kepala DLH Kota Tasikmalaya Ukim Sumantri mengatakan penghentian sementara aktivitas pengangkutan sampah terjadi sejak Sabtu hingga Senin. Para petugas baru kembali bekerja normal pada Selasa.

“Tumpukan sampah ini, jangankan ada mogok massal, satu atau dua kendaraan mogok saja bisa terjadi penumpukan. Apalagi ini berlangsung selama tiga hari,” kata Ukim, Kamis (7/5/2026).

Untuk mengatasi sampah yang menumpuk, DLH melakukan berbagai langkah darurat. Salah satunya dengan meminjam alat berat ekskavator dari Dinas Pekerjaan Umum.

Di beberapa titik TPS, proses pemindahan sampah ke kontainer yang biasanya dilakukan manual dibantu menggunakan alat berat.

Menurut Ukim, proses normalisasi pengangkutan sampah membutuhkan waktu karena volume sampah yang tertunda cukup besar, sementara alat berat yang tersedia terbatas.

“Kalau satu TPS mungkin bisa selesai sehari, tapi ini satu kota. Prioritas kemarin di kawasan Dadaha,” ujarnya.

Dia menyebut persoalan penumpukan sampah sebenarnya pernah terjadi sebelumnya pada 2024, yakni saat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ciangir penuh dan sempat ditutup warga. Saat itu, proses pemulihan kondisi normal membutuhkan waktu hingga satu pekan.

Atas kondisi tersebut, DLH menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat, terutama warga yang tinggal di sekitar TPS dan terdampak bau sampah.

“Kami mohon maaf yang sedalam-dalamnya atas penghentian sementara pengangkutan sampah karena petugas sedang menyalurkan aspirasi,” kata Ukim.

DLH juga mengajak masyarakat untuk mulai meningkatkan kepedulian terhadap pengelolaan sampah rumah tangga. Menurutnya, penanganan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat sebagai penghasil sampah.

Dia mengimbau warga memilah sampah yang masih memiliki nilai ekonomis untuk disalurkan ke pemulung atau bank sampah. Sementara sampah organik diharapkan dapat diolah menjadi kompos agar tidak seluruhnya dibuang ke TPA.

“Mudah-mudahan masyarakat meningkatkan kepeduliannya terhadap sampah yang dihasilkan di masing-masing rumah,” ujarnya.


Editor : Doni Ramdhani