Revitalisasi Warisan Budaya Sunda Mulai Digarap, Kampung Naga Jadi Prioritas

Revitalisasi tidak hanya menyasar pembangunan fisik, tetapi juga penguatan identitas budaya Sunda yang selama ini menjadi fondasi sejarah Jawa Barat.

Revitalisasi Warisan Budaya Sunda Mulai Digarap, Kampung Naga Jadi Prioritas
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat, Iendra Sofyan

INILAHKORAN.ID - Janji Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi untuk menghidupkan kembali pusat-pusat kebudayaan Sunda pasca peringatan Milangkala Tatar Sunda mulai memasuki tahap konkret. Sejumlah situs budaya strategis kini masuk dalam agenda revitalisasi Pemprov Jabar, mulai dari Kampung Naga di Tasikmalaya, kawasan Keraton Cirebon, hingga Museum Sri Baduga di Kota Bandung.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat, Iendra Sofyan mengatakan, revitalisasi tidak hanya menyasar pembangunan fisik, tetapi juga penguatan identitas budaya Sunda yang selama ini menjadi fondasi sejarah Jawa Barat.

Menurutnya, gagasan besar yang disampaikan Gubernur Dedi Mulyadi saat Milangkala Tatar Sunda diawali dengan upaya membangun kesadaran masyarakat terhadap kebesaran peradaban Sunda.

"Jadi pertama konsepnya waktu itu Pak Gubernur, pertama mensosialisasikan kepada masyarakat Jawa Barat bahwa Tatar Sunda ini sesuatu yang besar dan sudah kita tetapkan tanggal lahirnya (18 Mei)," kata Iendra saat ditemui di Museum Sri Baduga, Kota Bandung, Rabu (17/6/2026).

Sebagai simbol kebangkitan identitas budaya Sunda, Pemprov Jabar tahun ini membawa Mahkota Binokasih ke delapan titik bersejarah yang memiliki keterkaitan dengan perjalanan Kerajaan Sunda. Program tersebut bahkan direncanakan diperluas pada tahun depan.

"Yang kedua, bukti kebesaran Sunda itu. Kerajaan Sunda itu kemarin dengan membawa yang namanya Mahkota Binokasih ke delapan lokasi. Nah sementara ini memang delapan lokasi, tahun depan Pak Gubernur sempat meminta saya untuk menambah menjadi sepuluh atau berapa begitu ya," ujarnya.

Di balik perjalanan Mahkota Binokasih tersebut, Pemprov Jabar juga melakukan pemetaan kebutuhan pembangunan di sejumlah situs budaya yang dinilai membutuhkan perhatian pemerintah.

Iendra mengatakan, lokasi-lokasi yang dikunjungi menjadi dasar penyusunan program revitalisasi yang akan dijalankan secara bertahap.

"Nah kemudian karena ini menyesuaikan dari sebuah pembangunan. Sehingga lokasi yang dikunjungi itu, kita diminta untuk mengidentifikasi hal-hal yang memang perlu kita bantu dan kita bangun," katanya.

Dari sejumlah kawasan yang telah dipetakan, Kampung Naga di Kabupaten Tasikmalaya menjadi proyek yang paling dekat untuk direalisasikan. Saat ini proses penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) tengah berlangsung.

"Nah sementara ini memang yang terdekat, kami akan melakukan revitalisasi untuk Kampung Naga yang ada di Tasikmalaya. Nah ini prosesnya sedang berjalan, sedang menyusun RAB-nya," ungkap Iendra.

Tak hanya melakukan penataan kawasan, pemerintah juga menyiapkan program pemberdayaan masyarakat agar dampak revitalisasi dapat dirasakan langsung oleh warga setempat.

"Yang kedua adalah membantu masyarakat setempat untuk kesejahteraan ekonomi dan sosialnya di sana," tambahnya.

Selain menggunakan anggaran daerah, Pemprov Jabar juga menggandeng pemerintah pusat untuk mempercepat pemulihan dan pengembangan situs-situs budaya bersejarah di Jawa Barat.

"Yang lainnya, kita kolaborasi dengan pemerintah pusat, yang Insya Allah dalam tahun ini juga ada beberapa tempat yang akan dibantu oleh pemerintah pusat, termasuk oleh kita juga," ujar Iendra.

Salah satu fokus kolaborasi tersebut berada di Kota Cirebon. Pemerintah pusat saat ini tengah mempersiapkan rehabilitasi empat keraton yang menjadi simbol penting sejarah Kesultanan Cirebon.

"Misalnya yang pertama di Cirebon. Sejauh ini pemerintah pusat masih terus mempersiapkan pembangunan atau rehabilitasi untuk empat keraton yang ada di sana. Namun kita juga Alhamdulillah tahun ini ada anggaran untuk merevitalisasi alun-alun Kasepuhan (Cirebon)," katanya.

Selain kawasan keraton, rehabilitasi juga akan dilakukan terhadap Museum Sumedanglarang melalui dukungan APBN.

"Kemudian yang kedua adalah, masih dari APBN, yaitu adalah untuk rehab Museum Sumedanglarang," ucapnya.

Pemprov Jabar juga menyiapkan revitalisasi terhadap Museum Sri Baduga dan Taman Budaya Jawa Barat yang selama ini menjadi pusat edukasi dan aktivitas seni budaya masyarakat.
Menurut Iendra, proses perencanaan masih berlangsung dan saat ini sedang memasuki tahap penyusunan anggaran, di mana juga akan menggunakan APBN.

"Kemudian yang ketiga tempat ini (Museum Sri Baduga), kemudian yang kedua taman budaya. Tapi itu sudah tidak anggarannya APBN. Dan saat ini prosesnya masih menyusun RAB-nya. Mudah-mudahan keburu di tahun ini bisa diselesaikan," tuturnya.

Program revitalisasi tersebut menjadi bagian dari strategi besar Pemprov Jabar, dalam memperkuat ekosistem budaya Sunda, menjaga warisan sejarah, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata berbasis budaya. Dengan sejumlah proyek yang mulai bergerak pada 2026, warisan budaya sunda diharapkan tidak hanya terjaga, tetapi juga mampu menjadi daya tarik baru bagi wisatawan dan generasi muda Jawa Barat. ***


Editor : JakaPermana