Riset Kuat Layanan Hebat

PASIEN datang membawa masalah kesehatan. Rumah sakit pendidikan dituntut pulang membawa jawaban.

Riset Kuat Layanan Hebat
SOROTI BPS: Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan mendorong rumah sakit (RS) pendidikan menjadi solusi dari tantangan kesehatan masyarakat yang kompleks. Fauzan menyoroti temuan BPS yang membuktikan adanya biaya pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sepanjang 2025 mencapai Rp108 triliun dengan claims ratio di atas 100 persen.

Rumah sakit pendidikan tidak lagi cukup hanya menjadi tempat dokter belajar dan pasien mendapatkan perawatan. Di tengah persoalan kesehatan yang semakin rumit, rumah sakit juga dituntut mampu mencari jawaban, melahirkan inovasi, dan mencegah penyakit sebelum seseorang terbaring di ruang perawatan.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan mendorong perubahan besar tersebut. Menurutnya, rumah sakit pendidikan harus berkembang menjadi pusat pengetahuan yang menghubungkan pendidikan, pelayanan kesehatan, riset, hingga inovasi.

Dorongan itu muncul di tengah tingginya biaya pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Berdasarkan temuan Badan Pusat Statistik (BPS), biaya pelayanan JKN sepanjang 2025 mencapai Rp108 triliun dengan claims ratio di atas 100 persen.

Lebih dari seperempat dana tersebut, kata Fauzan, terserap untuk penyakit katastropik yang sebagian besar sebenarnya dapat dicegah.

“Yang patut kita renungkan, lebih dari seperempat dana itu habis untuk penyakit katastropik yang sebagian besar sebenarnya dapat dicegah. Di sinilah rumah sakit pendidikan dengan ilmunya seharusnya memberikan jawaban, bukan sekadar menampung pasiennya,” katanya seperti dikutip dari ANTARA, Senin (14/9).

Karena itu, Fauzan mendorong rumah sakit pendidikan bertransformasi dari teaching hospital menjadi academic health ecosystem. Perubahan tersebut menempatkan rumah sakit bukan hanya sebagai tempat pelayanan, tetapi sebagai ekosistem yang mempertemukan pendidikan, riset, teknologi, dan kebutuhan pasien.

Rumah sakit pendidikan, menurutnya, harus menjadi pusat keunggulan akademik sekaligus ruang bagi penelitian yang hasilnya benar-benar dapat dirasakan pasien.

“Rumah sakit pendidikan memerlukan transformasi supaya menjadi pusat keunggulan akademik, pusat riset yang hasilnya sampai ke pasien, pusat pengembangan teknologi dan sumber daya manusia kesehatan, sekaligus pusat pelayanan bermutu yang mampu berdiri secara profesional, berkelanjutan, dan humanis,” ujarnya.

Kemandirian menjadi bagian penting dalam perubahan itu. Rumah sakit didorong mengembangkan sumber nilai melalui layanan unggulan, riset, teknologi, dan pendidikan berkelanjutan.

Namun, orientasi tersebut tidak boleh menghilangkan fungsi sosial rumah sakit. Kemampuan untuk mandiri justru diharapkan berjalan beriringan dengan pelayanan yang tetap berpihak kepada kebutuhan masyarakat.

Lebih jauh, Fauzan membayangkan rumah sakit pendidikan sebagai “laboratorium hidup”. Persoalan yang ditemukan dalam pelayanan sehari-hari dapat diolah menjadi bahan penelitian, kemudian dikembalikan kepada pasien dalam bentuk teknologi, produk, maupun model layanan yang lebih baik.

Ada tiga kekuatan yang menurutnya perlu dipertemukan. Universitas memiliki pengetahuan, rumah sakit berhadapan langsung dengan persoalan klinis, sedangkan industri memiliki kemampuan untuk memproduksi hasil inovasi.

“Universitas punya knowledge, rumah sakit punya clinical problem, industri punya kemampuan produksi. Kalau tiga ini kita satukan, kita punya functional innovation,” katanya. (gin)


Editor : Inilahkoran