Sampah Menumpuk di Cigugur Tengah, Kepala UPTD: Kuota TPA Sarimukti Jadi Kendala
Kuota pembuangan sampah ke TPA Sarimukti jadi kendala utama banyaknya sampah yang menumpuk seperti di Cigugur Tengah
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Tumpukan sampah yang kerap menumpuk di kawasan RW 03 Kelurahan Cigugur Tengah, Kota Cimahi dikeluhkan warga. Lokasi yang berada tepat di depan sekolah dan area umum itu kini berbau sangat menyengat, bahkan dikabarkan mulai mengganggu kenyamanan serta konsentrasi siswa saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.
Ironisnya, titik penumpukan itu bukanlah lokasi resmi pelayanan pengangkutan sampah dari pemerintah kota, sehingga penanganannya pun tidak terjadwal secara rutin.
Kepala UPTD Pelayanan Persampahan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi, Komme Edcadian Siringoringo menjelaskan, kawasan tersebut tidak masuk dalam jalur operasional armada truk pengangkut sampah.
"Selama ini, pengangkutan hanya mengandalkan kendaraan bermotor roda tiga dengan frekuensi terbatas, yakni dua kali seminggu menuju Tempat Pembuangan Sementara (TPS) Cilember," kata Komme, Jumat (15/5/2026).
Menurutnya, kondisi ini diperparah oleh kebiasaan warga dari luar wilayah yang ikut membuang sampah sembarangan ke lokasi tersebut hanya karena melihat sudah ada tumpukan sampah, sehingga menjadikan tempat itu sebagai pembuangan liar yang tak terkelola.
"Masalah mendasar yang memicu penumpukan berulang bukan hanya pada rendahnya frekuensi angkut, melainkan pada pembatasan kuota pembuangan di Tempat Pengolahan dan Pembuangan Akhir sampah (TPPAS) Sarimukti," tuturnya.
Komme menyebut, Kota Cimahi hanya diberi jatah pembuangan maksimal 119 ton per hari atau sekitar 1.666 ton dalam siklus 14 hari. Padahal, data menunjukkan timbulan sampah warga mencapai 150 hingga 200 ton per hari, bahkan bisa menyentuh angka 230 ton.
Akibatnya, kuota biasanya habis di hari ke-9 atau ke-10, sehingga pengangkutan terhenti total selama 4 hingga 5 hari sampai kuota kembali dibuka. Masa jeda inilah yang membuat sampah menumpuk di berbagai titik, termasuk di Cigugur Tengah.
“Kapasitas armada pengangkut kami sebenarnya cukup memadai. Namun, ketika kuota di TPPAS Sarimukti habis, TPS Cilember menolak menerima sampah dan petugas terpaksa menimbunnya sementara di lokasi-lokasi darurat," sebutnya.
"Kami sudah berulang kali membersihkan, tapi karena masalah di hulu dan hilir belum selesai, sampah menumpuk lagi dengan cepat,” lanjutnya.
Untuk mengurai kemacetan penanganan sampah ini, jelas Komme, DLH kini berupaya memaksimalkan pengolahan di dalam kota guna mengurangi volume yang dikirim ke Sarimukti.
"Jam operasional Tempat Pengolahan sampah Terpadu (TPST) pun ditambah. Sayangnya, kemampuan fasilitas pengolahan masih jauh dari harapan," ungkapnya.
TPST Santiong misalnya, saat ini hanya sanggup mengolah 7 hingga 8 ton sampah per hari, padahal kebutuhannya jauh lebih besar. Rendahnya kapasitas itu disebabkan kerusakan pada salah satu lini mesin serta kelemahan struktur bangunan yang menghambat kinerja.
Komme mengatakan perbaikan menyeluruh terhadap fasilitas tersebut direncanakan berjalan pada Triwulan III tahun 2026 mendatang di bawah koordinasi Kementerian Pekerjaan Umum.
"Sambil menunggu perbaikan, kami juga terus mengimbau masyarakat untuk mulai mengurangi sampah dari sumbernya, baik di rumah tangga maupun kawasan usaha," ucapnya.
"Ini satu-satunya cara menekan ketergantungan terhadap kuota pembuangan akhir, sekaligus mencegah penumpukan sampah liar yang mengganggu kesehatan dan kenyamanan lingkungan, terutama di sekitar fasilitas pendidikan," tandasnya. ***
Editor : Ahmad Sayuti


