Sampah Menumpuk di KBB, Walhi Jabar Tawarkan Solusi

Penumpukan sampah yang ada di sejumlah titik di wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB) menjadi sorotan berbagai pihak, termasuk para pemerhati lingkungan seperti Walhi Jabar.

Sampah Menumpuk di KBB, Walhi Jabar Tawarkan Solusi
Sampah menumpuk di sejumlah titik pasar tradisional di Kabupaten Bandung Barat membuat prihatin Walhi Jabar.

INILAHKORAN, Ngamprah - Penumpukan sampah yang ada di sejumlah titik di wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB) menjadi sorotan berbagai pihak, termasuk para pemerhati lingkungan seperti Walhi Jabar.

Pasalnya, menurut Walhi Jabar, penumpukan sampah tidak hanya berdampak pada lingkungan, juga bisa berdampak pada kesehatan masyarakat sekitarnya.

"Solusi sederhana yang bisa dilakukan, jika ada niat pemerintah bisa memulai langkah nyata di kawasan yang menjadi pengelolaan mereka, misalnya di pasar-pasar tradisional," kata Direktur Walhi Jabar, Meiki W. Paendong saat dihubungi belum lama ini.

Menurutnya, lantaran di pasar itu ada pihak pengelolanya, mereka bisa melakukan pengolahan dengan memilah sampah yang dihasilkan pasar tradisional tersebut setiap harinya.

"Kalau itu bisa dilakukan, lumayan sampah yang berkurang berapa persen. Mungkin bisa 50 persen karena jumlah pasar tradisional itu bisa terhitung," tuturnya.

Kendati demikian, dirinya pun menyayangkan pemerintah yang selama ini belum serius menggarap sampah organik yang ada di pasar tradisional.

"Padahal, volume sampah di pasar tradisional bisa terukur dibandingkan dengan pemerintah kota/kabupaten mendorong semua masyarakat di rumah tangga untuk melakukan pemilahan meski hal itu merupakan jangka panjang," jelasnya.

Namun, sambung dia, minimal pemerintah bisa menggarap pengelolaan sampah di pasar tradisional saja dulu.

"Kan lumayan bisa mengurangi beban sampah yang diangkut ke TPA Sarimukti yang ada di Bandung Barat," ucapnya.

"Tapi, sayangnya selama ini pengelolaan sampahnya masih dicampur di semua tempat sampah di pasar tradisional kemudian langsung dibuang ke TPA Sarimukti," sambungnya.

Ia menilai, jika sistem mekanisme pengelolaan sampah masih dengan kumpul, angkat dan buang, maka persoalan sampah bakal terus terulang meski ada alternatif tempat pembuangan akhir sampah lain, seperti di TPA Legoknangka karena tentu akan kelebihan kapasitas sampah.

"Kan Legoknangka itu sebenarnya didesain khusus untuk menampung sampah residu (sampah yang tidak bisa didaur ulang)," ujarnya.

"Bercermin dari TPA Sarimukti, agar Legoknangka ini bisa berumur panjang nantinya.Tapi, praktek pengurangan pemilahan sampah itu tidak dilakukan atau dijalani tidak serius," sambungnya.

Ia menilai, sebenarnya kalau mekanisme tersebut dilakukan, maka dampak-dampak pencemaran sampah itu bisa terkurangi.

"Kalau sejak awal pengumpulan dan pemilahan ini dilakukan pasti yang diangkut ke TPA itu tinggal sampah yang tidak berbau," ujarnya.

Paling penting, tambah dia, tinggal ada keberanian atau tidak pemerintah baik kabupaten atau provinsi menganggarkan untuk menyediakan lahan khusus untuk pengelolaan sampah organik, seperti untuk pengolahan pengomposan, magot ataupun bio digester.

"Tapi, harus berjalan juga pengumpulan dan pemilahannya, karena tanpa itu gakkan berjalan," tandasnya.*** (agus satia negara)


Editor : Zulfirman