Sampah SPPG Capai 50 Ton
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Yogo Triastopo
INILAH, Bandung - Setiap hari, dapur-dapur yang menyiapkan makanan bergizi tidak hanya meninggalkan makanan di meja makan. Ada sisa sayuran, kulit buah, nasi, dan berbagai limbah organik yang ikut mengalir setelah aktivitas memasak selesai.
Di Kota Bandung, jumlahnya tak kecil. Produksi sampah dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kini mencapai sekitar 50 ton per hari. Mayoritas merupakan sampah organik.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, angka tersebut telah teridentifikasi oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung. Volume sampah itu menjadi perhatian seiring jumlah SPPG yang kini mendekati 300 unit.
“Sekarang sudah teridentifikasi oleh DLH, ada sekitar 50 ton sampah per hari dari SPPG,” kata Farhan, Senin (14/9).
Dari dapur-dapur SPPG, sampah organik menjadi bagian terbesar dari limbah yang dihasilkan. “Ya, rata-rata sampah organik,” ujarnya.
Bagi pemerintah kota, persoalannya bukan sekadar berapa banyak sampah yang dihasilkan. Ada pekerjaan lain yang menunggu setelah makanan selesai diproduksi dan dibagikan: bagaimana sisa-sisa aktivitas dapur itu dikelola agar tidak kembali menjadi beban kota.
Pengelolaan sampah organik pun dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Penanganan yang dilakukan sejak sumber diharapkan mampu mengurangi tekanan terhadap sistem persampahan di hilir.
“Karena itu kita sedang memperkuat pengelolaannya,” kata Farhan.
Sampah organik, menurut dia, memiliki posisi penting dalam keseluruhan sistem persampahan. Jika dapat ditangani sejak dari sumbernya, persoalan yang lebih besar di tempat pembuangan akhir dapat ditekan.
“Bagaimanapun juga, pengelolaan sampah organik merupakan kunci keberhasilan pengelolaan sampah secara keseluruhan,” tegasnya.
(gin)
Editor : Inilahkoran

