Sanksi 12 Bulan Tanpa Bermain Dinilai Terlalu Berat, FIFPro Bela Yuran Fernandes

Dalam dunia sepak bola profesional, kritik terhadap keputusan wasit memang kerap terjadi. Namun, ketika kritik itu berujung pada hukuman larangan bermain selama satu tahun, berbagai pihak pun angkat suara. Inilah yang kini dialami kapten PSM Makassar, Yuran Fernandes, yang tengah menjadi sorotan setelah dijatuhi sanksi berat oleh Komisi Disiplin (Komdis) PSSI.

Sanksi 12 Bulan Tanpa Bermain Dinilai Terlalu Berat, FIFPro Bela Yuran Fernandes
Sanksi 12 Bulan Tanpa Bermain Dinilai Terlalu Berat, FIFPro Bela Yuran Fernandes

INILAHKORAN, Bandung – Dalam dunia sepak bola profesional, kritik terhadap keputusan wasit memang kerap terjadi.

Namun, ketika kritik itu berujung pada hukuman larangan bermain selama satu tahun, berbagai pihak pun angkat suara. Inilah yang kini dialami kapten PSM Makassar, Yuran Fernandes, yang tengah menjadi sorotan setelah dijatuhi sanksi berat oleh Komisi Disiplin (Komdis) PSSI.

Kasus ini bermula dari laga antara PSM Makassar dan PSS Sleman pekan lalu, di mana sebuah gol Yuran Fernandes dianulir oleh VAR. Merasa kecewa dengan keputusan tersebut, Yuran meluapkan emosinya melalui unggahan di media sosial.

Unggahan itu menyuarakan kritik keras terhadap integritas sepak bola Indonesia, namun kemudian dihapus dan disusul dengan permintaan maaf dari sang pemain.

"Sepak bola di Indonesia hanya candaan. Makanya level dan korupsinya akan tetap sama. Jika Anda ingin menghasilkan uang, Anda bisa datang ke Indonesia. Jika Anda ingin bermain sepak bola serius, menjauhlah dari Indonesia," tulis Yuran dalam unggahan tersebut sebelum akhirnya dihapus.

Komdis PSSI menanggapi pernyataan itu dengan menjatuhkan hukuman berat: larangan bermain selama 12 bulan dan denda uang.

Sanksi ini segera menuai reaksi, tidak hanya dari dalam negeri, tetapi juga dari Federasi Internasional Asosiasi Pesepak Bola Profesional (FIFPro), lembaga global yang mewakili pemain sepak bola profesional di seluruh dunia.

Melalui pernyataan resminya yang diunggah di akun Instagram Asosiasi Pesepak Bola Profesional Indonesia (APPI) pada Kamis, FIFPro menyatakan keprihatinannya yang mendalam.

FIFPro meyakini bahwa semua pesepak bola profesional memiliki hak untuk dapat mengekspresikan pendapat mereka. Oleh karena itu kami sangat khawatir tentang adanya sanksi yang sangat keras dan tidak proporsional yang diberikan kepada Yuran Fernandes, yang membuatnya tidak dapat bekerja sebagai pesepak bola di Indonesia selama 12 bulan dan juga ditambah dengan denda uang,” tulis FIFPro.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa FIFPro menilai hukuman terhadap Yuran bukan hanya tidak adil, tapi juga bertentangan dengan prinsip kebebasan berekspresi yang semestinya dilindungi dalam dunia profesional.

Asosiasi Pesepak Bola Profesional Indonesia (APPI) juga menegaskan bahwa mereka tengah berkoordinasi dengan FIFPro dan klub PSM Makassar dalam proses banding atas sanksi tersebut.

“APPI menghormati proses banding yang sedang berjalan di komisi banding PSSI dan masih berkomunikasi dan berkoordinasi dengan FIFPro dan juga klub PSM Makassar,” tulis APPI dalam unggahan Instagram-nya.***


Editor : Yosep Saepul Ramadan