Sebulan Menanti Jembatan Kembali
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh : Agus Satia Negara
JEMBATAN di Jalan Raden Demang Hardjakusumah menjadi urat nadi warga Cimahi Utara dan Cimahi Tengah. Kini, Pemkot Cimahi berpacu memperbaikinya agar tak sampai 90 hari.
Bagi warga Kota Cimahi, jembatan di Jalan Raden Demang Hardjakusumah bukan sekadar bentang beton yang menghubungkan dua sisi jalan. Ruas itu menjadi bagian penting dari perjalanan sehari-hari, terutama bagi warga yang bergerak dari Cimahi Utara menuju Cimahi Tengah dan sebaliknya.
Karena itu, ketika jembatan tersebut harus menjalani pemeliharaan, dampaknya terasa jauh lebih besar. Tidak banyak pilihan jalur lain yang bisa digunakan warga. Kemacetan pun menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan. Pemerintah Kota Cimahi kini mencoba memangkas waktu tunggu itu.
Wakil Wali Kota Cimahi Adhitia Yudisthira mengatakan pekerjaan yang semula ditargetkan berlangsung hingga 90 hari didorong agar selesai dalam waktu satu bulan. Harapannya, kendaraan bisa kembali melintas secepat mungkin tanpa mengorbankan keselamatan.
“Kami akan coba terus mendorong pembangunan jembatan Pemkot Cimahi lebih cepat, sehingga ditargetkan tidak lagi 90 hari, kalau bisa satu bulan jembatan sudah bisa dilalui lagi kendaraan,” kata Adhitia, Rabu (26/8).
Jembatan tersebut memiliki posisi penting karena menjadi salah satu akses utama menuju kawasan perkantoran Pemerintah Kota Cimahi. Setiap hari, arus kendaraan melewati ruas ini untuk menghubungkan aktivitas masyarakat dari bagian utara dan tengah kota.
Persoalannya, akses alternatif sangat terbatas. Artinya, setiap hari tambahan dalam pengerjaan berarti semakin panjang pula waktu yang harus ditanggung warga dalam kemacetan.
“Keterbatasan akses alternatif membuat setiap penundaan pekerjaan berarti berlipatnya beban kemacetan bagi ribuan warga yang melintas setiap hari, sehingga percepatan pengerjaan menjadi kebutuhan mendesak yang tak bisa ditawar,” ujarnya.
Namun, mengejar waktu bukan berarti mengabaikan kondisi jembatan. Struktur yang kini berusia sekitar 20 tahun itu pernah mengalami masalah serius pada pertengahan 2025. Permukaan jalan di salah satu bagian jembatan turun sekitar 10 hingga 20 sentimeter.
Penurunan terjadi tepat di area plat injak, bagian yang menghubungkan permukaan jalan dengan struktur jembatan. Kondisi itu bukan sekadar jalan yang perlu diratakan kembali.
Ada persoalan daya dukung struktur yang harus diperiksa dan diperkuat. Karena itu, pekerjaan kali ini diarahkan pada fondasi.
Pemkot Cimahi menggunakan metode hydraulic dynamic-static pile, teknik yang memadukan tekanan hidrolik dengan beban dinamis terkontrol untuk memperkuat fondasi melalui penambahan tiang pancang.
Metode tersebut dipilih dengan mempertimbangkan usia jembatan. Cara konvensional yang mengandalkan pemukulan keras untuk memasukkan tiang pancang dinilai memiliki risiko terhadap struktur lama. Dengan metode hydraulic dynamic-static pile, proses penguatan fondasi diharapkan dapat dilakukan lebih aman sekaligus lebih presisi.
“Metode ini berbeda dengan cara konvensional yang mengandalkan pemukulan keras yang berisiko merusak struktur jembatan yang sudah berusia 20 tahun. Selain lebih aman, teknologi ini juga memungkinkan proses pengerjaan jauh lebih cepat dan presisi,” jelas Adhitia.
Kecepatan pengerjaan kemudian menjadi harapan lain. Pemkot Cimahi bahkan membuka kemungkinan jembatan kembali digunakan secara bertahap apabila kondisi struktur sudah dinyatakan aman, meski pekerjaan belum sepenuhnya rampung.
“Metodenya bisa mempercepat proses perbaikan jembatan, sehingga pada saat perbaikan sudah mau selesai meski belum 100% akan kita buka jembatannya jika memungkinkan,” ucapnya.
Namun, semua tetap bergantung pada satu hal: keselamatan. Sebab, persoalan yang sedang diperbaiki bukan hanya permukaan jalan yang terlihat oleh mata.
Penurunan 10–20 sentimeter di area plat injak menjadi tanda, bagian penting dari struktur jembatan membutuhkan perhatian. Jika dibiarkan, kerusakan berpotensi berkembang menjadi persoalan yang lebih serius.
“Jika dibiarkan, risiko kerusakan lebih parah hingga keruntuhan tidak bisa diabaikan. Oleh karena itu, perbaikan yang dilakukan tidak hanya mengembalikan permukaan jalan, tetapi memperkuat fondasi secara menyeluruh agar jembatan kembali kokoh dan berumur panjang,” bebernya. (gin)
Editor : Inilahkoran

