Sekolah Menjawab Dunia Kerja

Sekolah Menjawab Dunia Kerja
KEMBANGKAN PENDIDIKAN: Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim, menyampaikan tantangan untuk memajukan dan mengembangkan pendidikan di Kota Bogor.

INILAH, Bogor - Pendidikan tidak berhenti ketika seorang anak menerima ijazah. Setelahnya, ada dunia yang menunggu: pekerjaan, kehidupan, dan tuntutan zaman yang terus berubah.

Karena itu, sekolah tidak cukup hanya mengajarkan pengetahuan. Pendidikan juga harus mampu mengantar anak menemukan tempatnya di dunia nyata.

Tantangan itulah yang mengemuka dalam Sarasehan Pendidikan Kota Bogor 2026 di Gedung PPM, Jalan Binamarga, Kamis (20/8).

Mengusung tema “Optimalisasi Fungsi Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah”, forum tersebut menjadi ruang untuk membicarakan masa depan pendidikan Kota Bogor.

Wali Kota Bogor Dedie A Rachim melihat masih ada jarak yang perlu dijembatani.

Di satu sisi, pendidikan terus berjalan. Di sisi lain, pengangguran terbuka, anak putus sekolah, dan rata- rata lama sekolah masih menjadi persoalan.

Pertanyaan besarnya adalah apakah pendidikan yang diberikan sudah benarbenar bertemu dengan kebutuhan dunia kerja.

“Apakah pendidikan di Bogor menjawab kebutuhan industri maupun bidang usaha yang ada? Ini pertanyaan besar yang harus dijawab,” kata Dedie dalam keterangan persnya, Kamis (20/8).

Menurutnya, pendidikan perlu mempertemukan supply dan demand. Anakanak yang putus sekolah harus diberi jalan untuk kembali belajar, sementara mereka yang telah menyelesaikan pendidikan perlu diarahkan menuju bidang pekerjaan yang memang membutuhkan tenaga.

Program Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), misalnya, dapat menjadi jalan bagi anak yang terlanjur meninggalkan sekolah.

Pendataan di tingkat RT dan RW diperlukan agar mereka tidak hilang dari perhatian.

Sementara bagi pencari kerja, pendidikan dan pelatihan perlu disesuaikan dengan kebutuhan yang nyata.

Tidak semua orang harus diarahkan menjadi penjahit atau juru las jika pasar kerja justru membutuhkan barista, tenaga perhotelan, housekeeping, atau pekerja di restoran.

“Jangan sampai pendidikannya tidak nyambung dengan kebutuhan realitas,” ujar Dedie. (gin)


Editor : Inilahkoran