Selamatkan Tenun Gadod Majalengka dari Kepunahan Lewat PWJB 2024
Juju Juariah (56) tak pernah menyangka, niat awalnya hanya ingin melestarikan Tenun Gadod Khas Kabupaten Majalengka mendapat apresiasi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Juju Juariah (56) tak pernah menyangka, niat awalnya hanya ingin melestarikan tenun Gadod Khas Kabupaten Majalengka mendapat apresiasi.
Setelah dinyatakan sebagai pemenang dalam lomba diversifikasi produk sandang berbahan serat alam pada Pesona Wastra Jawa Barat (PWJB) 2024 di Mason Pine, Kabupaten Bandung Barat, Minggu 13 Oktober 2024.
Gaun hasil karya Juju, yang berasal dari kapas dan kemudian ditenun menjadi kain, sukses memikat para juri lomba di PWJB 2024.
Capaian ini tentu membanggakan baginya, sekaligus menyemangatinya karena mimpinya untuk menyelamatkan tenun Gadod dari kepunahan mendapat titik terang.
Juju berharap, dari PWJB 2024 ini tenun Gadod dapat kembali dikenal oleh masyarakat. Tidak hanya Jawa Barat, tetapi mimpinya juga dapat mendunia.
"Harapannya, tenun Majalengka supaya lebih dikenal luas, mendunia. Karena selama ini jangankan orang luar, (orang) Majalengka sendiri tidak semua tahu kalau punya tenun karena sudah langka. Penenun sudah sepuh, tinggal dua orang. Saya merasa berkewajiban untuk melanjutkan tradisi tenun ini untuk dikembangkan lagi," ujar Juju.
Dia melanjutkan, dalam membuat satu lembar gaun membutuhkan waktu cukup panjang. Dimulai dari memanen kapas, lalu penjemuran, pemintalan sampai akhirnya ditenun menjadi selembar kain.
Setelah itu, selembar kain tersebut baru dijadikan satu buah gaun yang sudah bisa digunakan.
"tenun sekitar dua minggu sampai satu bulan untuk jadi kain. Semingguan jadi baju," ucapnya.
Selain proses pembuatannya yang panjang, ada tantangan tersendiri baginya dalam menciptakan satu lembar gaun tersebut.
Tempat tinggal penenun tenun Gadod di Majalengka kata dia, berada di kampung terpencil. Sehingga butuh usaha yang cukup keras baginya.
"Jauh, di balik gunung. Harus bolak-balik, enggak ada kendaraan umum. Itu perjuangan," imbuhnya.
Mengenai desain gaun, Juju mengaku belajar otodidak. Dimana sebelumnya dirinya merupakan pembuat kain ecoprint, perlahan merambah menjadi desainer karena adanya permintaan pembeli.
Perlahan tapi pasti, upaya tersebut membuahkan hasil, karena peminat gaun hasil tenun Gadod memiliki cukup banyak peminat.
Terlebih usai menjadi juara di PWJB 2024, yang kian membuka peluangnya merambah pasar lebih luas.
"Kebetulan tadi hanya keperluan lomba, tapi banyak yang berminat. Alhamdulillah ada (pesanan) buat," pungkasnya.***
Editor : JakaPermana

