Sempat Mangkir, Pelaku Korupsi KPR Akhirnya Ditahan

Hengki Japri akhirnya menyerahkan diri setelah mangkir saat pemanggilan perdana sebagai tersangka korupsi KUR Bank Himbara

Sempat Mangkir,  Pelaku Korupsi KPR  Akhirnya Ditahan
Tersangka Henki yang sempat mangkir akhirnya koperatif dan ditahan penyidik kejari Karawang. Nilakusuma

INILAHKORAN.ID - Usai mangkir, salah seorang tersangka kasus dugaan korupsi Bank Himbara Hengki Japri akhinya meneyerahkan diri ke Kejari Karawang dan langsung dilakukan penahanan. 

Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasipidsus), Moeslem Haraki mengatakan tersangka Hengki datang memenuhi panggilan Kejari Karawang

Kemudian Hengki menjalani pemeriksaan. Usai pemeriksaan Hengki langsung ditahan penyidik kemudian dibawa ke Lapas Karawang

"Tersangka hadir memenuhi undangan kedua setelah undangan pertama tidak hadir. Kehadiran tersangka langsung kami periksa dan kemudian kami tahan," kata Moeslem Haraki, Rabu (9/9/26).

Menurut Moeslem, tersangka Hengki merupakan Manager Marketing dalam PT. Bumi Arta Sedayu (BAS) perusahaan pengembang perumahan yang diperiksa karena kasus korupsi kredit pemilikan rumah (KPR). Hengki diduga memilik peran penting dalam strategi pemasaran PT. BAS dan kordinasi dengan pihak bank BTN untuk mempercepat pencairan proses pengajuan KPR. 

"Kami melakukan penahanan terhadap tersangka Hengki untuk kepentingan penyidikan. Penahanan dilakukan selama 20 hari kedepan terhitung 8 September 2026," kata Moeslem, Rabu (9/9/26).

Moeslem mengatakan tersangka Hengki menjabat sebagai General Sales dan Marketing PT. BAS periode 2020-2024. Dengan jabatan itu Hengki bertanggungjawab strategi pemasaran dan berkordinasi denga pihak perbankan. Tersangka berkordinasi dengan pimpinan untuk mempercepat persetujuan KPR. 

"Penyidik menemukan keterlibatan yang bersangkutan dalam proses manipulasi data komsumen untuk mempercepat persetujuan KPR," katanya.

Manipulasi data dilakukan agar konsumen yang tidak memenuhi persyaratan kelayakan kredit, tetap dapat mengajukan dan memperoleh persetujuan KPR. Manipulasi data membuat jumlah orang yang mendapat KPR semakin banyak meski belum layak.

"Kami menemukan adanya dugaan manipulasi data pekerjaan maupun penghasilan kornsumen. Kami terus mendalami kasus ini melihat keterlibatan masing-masing pihak," katanya.  


Editor : Ahmad Sayuti