Seniman Pakistan Tuding Film 'Merah Putih: One For All' Curi Animasi 3D Miliknya
Enam karakter milik seniman Pakistan diduga dicuri oleh pihak produksi film Merah Putih One for All.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN - Kontroversi yang mengenai film animasi Merah Putih: One For All semakin memanas. Seorang seniman 3D asal Pakistan, Junaid Miran, menuduh tim produksi film tersebut menggunakan enam karakter karyanya tanpa izin dan tanpa memberikan kredit.
Junaid mengaku tidak pernah dihubungi pihak produksi Merah Putih: One For All terkait penggunaan karyanya.
Padahal, karakter 3D yang ia ciptakan diduga kuat menjadi sosok tokoh utama dalam film tersebut—seorang anak laki-laki berkulit hitam dengan baju merah yang memimpin teman-temannya mencari bendera yang hilang.
“Tidak ada satu pun dari tim produksi yang menghubungi saya atau memberi kredit atas penggunaan karakter saya sebagai tokoh utama. Mereka telah menggunakan total enam karakter,” ujar Junaid melalui media sosial.
Ia menambahkan, keenam karakter tersebut terlihat jelas dalam trailer resmi film dan kemungkinan jumlahnya lebih banyak dalam versi lengkap. “Ada enam di trailer saja, mungkin lebih banyak lagi di filmnya,” ungkapnya.
Junaid juga menyoroti ironi tudingan pencurian karya ini, mengingat Indonesia belakangan gencar mengkampanyekan perlindungan royalti dan hak cipta.
“Ini ironis karena Indonesia terlalu keras mendorong royalti dan hak cipta akhir-akhir ini. Kami sudah muak dengan itu,” katanya.
Ia berharap seniman atau pihak terkait bisa menuntut tim produksi bila memang ada pelanggaran hak cipta. “Saya harap Anda bisa menuntut mereka jika memungkinkan,” tambahnya.
Seperti diketahui, film Merah Putih: One For All sendiri awalnya dipromosikan sebagai karya animasi nasional yang mengangkat nilai persatuan dan semangat kemerdekaan. Namun, sejak perilisannya, film ini menuai berbagai polemik, mulai dari kualitas film yang buruk hingga dugaan penggunaan aset visual tanpa izin.
Pihak produksi hingga kini belum memberikan klarifikasi resmi terkait tuduhan Junaid Miran maupun kontroversi lain yang mengiringi perilisan film tersebut. Publik dan pemerhati hak cipta masih menunggu tanggapan resmi untuk meredakan polemik yang semakin ramai diperbincangkan di media sosial.
Editor : Firda Rachmawati


