Sepanjang 2025, Pemprov Jabar Targetkan Miliki 16 Sekolah Rakyat Terintegrasi
Sepanjang 2025, Pemprov Jabar Targetkan Miliki 16 Sekolah Rakyat Terintegrasi
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Cimahi – Sebagai upaya memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat menargetkan 16 Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) tahun 2025 ini.
Diketahui, dari 100 Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) di Indonesia, Jawa Barat baru memiliki 13 SRT, salah satunya yang berlokasi di Dinas Sosial (Dinsos) yang memanfaatkan bangunan milik Pemprov Jabar dengan empat kelas.
"Empat kelas ini terdiri dari empat rombongan belajar (rombel), antara lain 2 rombel untuk jenjang SMP dan 2 rombel untuk jenjang SMA," kata Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman saat ditemui di Cimahi belum lama ini.
Herman menyebut, untuk jumlah siswa di SRT Cimahi mencapai 100 orang dengan dukungan 50 guru, kepala sekolah dan wali asrama/wali asuh. Tak cuma itu, kurikulum di Jawa Barat bakal diperkaya dengan muatan lokal Kepemimpinan Pancawaluya atau Generasi Pancawaluya.
“Selain 13 sekolah yang memanfaatkan bangunan Kementerian Sosial dan Pemda, ada juga milik kabupaten/kota yang direnovasi Kementerian PUPR dan kini beroperasi,” sebutnya.
Kementerian Sosial, kata Herman, telah menginformasikan rencana penambahan tiga sekolah lagi yang tengah dipersiapkan. Termasuk renovasi dan rekrutmen siswa.
“Mudah-mudahan yang tiga ini akan segera tuntas, sehingga tahun ini Jawa Barat memiliki 16 Sekolah Terintegrasi,” imbuhnya.
Hingga saat ini, ungkap Herman, jumlah siswa di 13 SRT Jawa Barat mencapai 1.380 orang dengan rincian 75 siswa di jenjang SD, 675 siswa di SMP, dan 630 pada jenjang SMA.
Bahkan, pihaknya mengklaim fasilitas SRT tersebut lengkap, mulai dari ruang kelas dengan peralatan belajar, laptop, laboratorium untuk SMP dan SMA, hingga asrama dengan tempat tidur dan toilet representatif.
"Saya sudah cek, asrama lengkap, anak-anak dijamin betah,” imbuhnya.
Kendati demikian, Herman mengingatkan kepada para guru, kepala sekolah, wali asuh, dan wali asrama untuk memberikan perhatian khusus dan motivasi kepada siswa, terutama di awal masa tinggal di asrama.
“Satu atau dua hari mungkin masih ingat rumah, tapi seminggu atau dua minggu kemudian diharapkan betah,” katanya.
"Fasilitas makan pun diatur ketat, tiga kali sehari, dimasak khusus untuk 100 siswa," ucapnya.
Dari sisi gizi, standar isi, dan kurikulum, sambung Herman, ini luar biasa. Apalagi, Pemprov Jawa Barat bakal memberikan tambahan muatan lokal, yakni Rp20 juta untuk siswa SRT Cimahi.
Menurutnya, seluruh kebutuhan dasar siswa ditanggung pemerintah, termasuk uang saku proporsional.
“Ya sekali-kali kan boleh mereka jajan, sama seperti anak-anak lainnya,” tambahnya.
Kendati demikian, sambung Herman, di tengah optimisme tersebut, tantangan terbesar program ini tetap pada kualitas pengajaran, kapasitas tenaga pendidik, dan keberlanjutan pendanaan.
"Jika aspek tersebut tidak diperkuat, target 16 sekolah berisiko menjadi sekadar pencapaian angka tanpa peningkatan mutu yang signifikan bagi masa depan generasi penerus," ujarnya.*** (agus satia negara)
Editor : Bsafaat

