Sikap Kami: Cara Gampang Menang Pilkada

SEPANJANG Rabu kemarin, debat kandidat pilkada, termasuk juga di wilayah Jawa Barat, banyak berlangsung. Salah satunya di Kota Bandung dan Kabupaten Bandung.

Sikap Kami: Cara Gampang Menang Pilkada

SEPANJANG Rabu kemarin, debat kandidat pilkada, termasuk juga di wilayah Jawa Barat, banyak berlangsung. Salah satunya di Kota Bandung dan Kabupaten Bandung.

Ada yang menarik? Ada. Banyak tentunya. Debat di pilkada Kabupaten Bandung, misalnya, berlangsung cukup panas. Maklum, kontestannya adalah Dadang Supriyatna dan Sahrul Gunawan, dua figur yang langsung pecah tak lama setelah memenangkan pilkada Kabupaten Bandung sebelumnya.

Di Kota Bandung juga cukup menarik. Pesertanya banyak: empat pasangan calon. Idenya? Masih landai. Rasanya belum banyak hal-hal baru muncul dalam tataran ide. Yang menarik baru sekadar persaingan komunikasi publik saja.

Tapi, ada hal menarik di antara debat-debat tersebut. Tahukah Anda kata apa yang paling sering muncul dalam perdebatan? Ini: insentif. Hampir segala program disertai dengan insentif.

Maka, muncul pertanyaan, apakah cukup membangun kabupaten/kota hanya dengan insentif? Soal sampah, ada insentifnya. Soal ekonomi kerakyatan, ada insentifnya. Meningkatkan kinerja pemerintahan, insentif juga. Pokoknya, obat penyelesaian masalah perkabupatenan atau perkotaan cukup dengan insentif.

Kita pahamlah, insentif-insentif yang dimaksud itu tak lebih dari sekadar pemanis. Kata-kata yang dimaksudkan untuk menarik pemilih. Maklumlah, di tengah kesulitan ekonomi saat ini, insentif dan sejenisnya menjadi hal yang cukup menggembirakan warga.

Namun, persoalannya bukan itu. Kabupaten/kota memiliki begitu banyak persoalan. Obatnya sudah pasti bukan insentif. Insentif itu sekadar stimulus saja. Bagi warga, kabupaten/kota yang tertata, sudah jauh lebih bermakna daripada insentif.

Jika insentif yang jadi obat segala hal, untuk apa ada kepala daerah? Jika insentif yang jadi modal, si Badu yang rata-rata lama sekolahnya hanya 6-7 tahun pun cukup untuk jadi kepala daerah.

Lagi pula, berapa sih APBD kabupaten/kota dalam dua-tiga tahun terakhir. Sebagian di antaranya bahkan mengalami penurunan. Apa cukup anggaran pemerintahan untuk membayar insentif ini dan itu?

Kita berharap, pada debat-debat berikutnya, persoalan insentif ini hendaknya dikurangi para kandidat. Kemukakanlah strategi yang jitu bagaimana mengatasi persoalan yang dihadapi warga.

Buat kita, apa yang tersampaikan para kandidat dalam berbagai debat, belumlah mencukupi untuk memenuhi syarat sebagai calon kepala daerah yang diharapkan. Strateginya masih itu-itu saja. Masih strategi yang populer untuk meraih suara, bukan strategi jitu untuk solusi persoalan daerah.

Dari debat yang sudah berlangsung, kita belum menemukan ide yang genuine dari para kandidat. Yang mereka berisikkan tak lebih dari strategi mudah menang pilkada saja. (*)


Editor : Zulfirman