Sikap Kami: Hijab Paskibraka, Keberagaman Atau Keseragaman?

PASKIBRAKA itu adalah kebanggaan. Tak perlu memaksakan kesatuannya dalam keseragaman. Dia demikian indah jika disatukan dalam keberagaman.

Sikap Kami: Hijab Paskibraka, Keberagaman Atau Keseragaman?

paskibraka itu adalah kebanggaan. Tak perlu memaksakan kesatuannya dalam keseragaman. Dia demikian indah jika disatukan dalam keberagaman.

Para pendiri bangsa ini memahami sekali hal itu. Karena itu, muncullah Bhinneka Tunggal Ika. Karena itu, muncullah Pancasila. Dia adalah landasan kehidupan berbangsa yang berlandaskan keberagaman.

paskibraka itu adalah keberagaman. Di Jawa Barat, misalnya, pasukan pengibar bendera itu datang dari 27 kabupaten/kota. Mereka datang dari latar belakang kultur dan kehidupan yang berbeda, bersatu dalam paskibraka Jawa Barat.

Tak percaya? Dengarlah paskibraka asal Kabupaten Majalengka Naufal Fadhil Mufarrijan Nugraha ini. Dia menikmati proses adaptasi dengan situasi dan kondisi yang menurutnya baru dan menambah wawasan. Artinya? Betapapun Bandung dan Majalengka sepelemparan batu, tetap ada perbedaan yang memunculkan keberagaman.

paskibraka adalah anak-anak muda yang mau berkorban. Remaja yang siap menghadapi berbagai tantangan untuk jadi pengibar bendera. Melewati berbagai tes dan uji, sebagai tempaan terhadap jiwa nasionalismenya, patriotisme, dan kepemimpinannya.

Jadi, jika ada pemaksaan-pemaksaan atas penyeragaman dalam keberagaman itu, maka itu bukanlah kebinekaan. Itu bukanlah nilai-nilai Pancasila. Sebab, Pancasila sendiri menyiratkan persatuan dalam keberagaman itu.

paskibraka putri yang dipaksa melepas hijabnya melalui aturan pada dua kesempatan di level nasional, adalah bentuk pencederaan atas keberagaman itu. Apalagi, hal tersebut terkait dengan nilai-nilai keyakinan beragama mereka.

Aturan yang dikeluarkan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) itu, menurut kita, adalah regulasi yang konyol. Dia tak memberi kebebasan kepada paskibraka-paskibraka putri untuk menunjukkan keberagaman dalam persatuan itu.

Mestinya, BPIP menggali sepenuhnya nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Bukan saja soal nilai-nilai ketuhanan dan keagamaan, melainkan juga perbedaan-perbedaan yang menghadirkan keberagaman yang indah itu. Nilainya yang penting, bukan tampilan luarnya seperti pemaksaan seragam itu.

Jika keberagaman itu tak mengganggu persatuan, apalah masalahnya? Apalagi, jika keberagaman itu mampu memperkuat kesatuan. Dan, dalam perjalanan sejarah bangsa ini, kekuatan keberagaman itulah yang selama ini menjadi modal utama kita.

Mudah-mudahan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat tidak termakan keseragaman dalam persatuan, tapi lebih memanfaatkan keberagaman untuk persatuan. Dengan begitu, para anggota paskibraka di Jawa Barat masih bisa tampil dengan ragam yang tak dipaksakan untuk terlihat bersatu itu. (*)


Editor : Zulfirman