Sikap Kami: Mimpi Ketinggian Dedi Mulyadi

SEMANGAT Dedi Mulyadi tentu patut kita dukung. Hanya, gayanya terlalu bombastis. Menghabisi persoalan pungutan liar alias pungli hanya dalam tiga bulan, buat kita tak lebih dari sekadar mimpi.

Sikap Kami: Mimpi Ketinggian Dedi Mulyadi

SEMANGAT Dedi Mulyadi tentu patut kita dukung. Hanya, gayanya terlalu bombastis. Menghabisi persoalan pungutan liar alias pungli hanya dalam tiga bulan, buat kita tak lebih dari sekadar mimpi.

Tentu saja, kita tidak dalam posisi memberi ruang untuk praktik pungli. Malah sebaliknya. Itu sebab, kita mendukung semangat perlawanan terhadap pungli seperti yang disampaikan Gubernur Jawa Barat itu.

Negeri ini telah bergelimang pungli, bahkan sebelum bernama Indonesia. Dalam rentang waktu sepanjang itu, tak seorang pun yang bisa menghentikan praktik itu secara sungguh-sungguh dan menyeluruh. Jadi, kalau bisa dalam rentang waktu tiga bulan, hebat sekali.

Onghokham, sejarawan, menyebut pungli sudah berakar bahkan sejak kerajaan-kerajaan tradisional di Indonesia. Mulai dari Majapahit hingga Mataram. Mungkin juga pada kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa Barat pada era itu.

Di era itu, pejabat kerajaan tak menerima gaji. Hanya diberi tanah atau hak-hak khusus seperti memungut upeti. Upeti itulah yang kemudian dipermainkan, menjelma menjadi pungli.

Beragam cara pula kemudian dilakukan untuk memberantasnya. Yang terkenal ada Opstib di era Orde Baru. Atau di era Orde Reformasi muncul Saber pungli, yang kini kabarnya entah bagaimana.

pungli sudah menjadi kebiasaan buruk bangsa ini. Dia mungkin menjadi kultur, tapi pasti bukan budaya. Terjadi di mana-mana dan dalam kegiatan bermacam ragam.

Penanangan pungli menjadi sulit karena harus diakui, perlawanan terhadap pungli tergantung kepentingan. Jika menguntungkan, maka memberi atau menerima pungli pun tak sedikit yang bersedia.

Sulit memberantasnya karena masyarakat tak paham pungli adalah maladministrasi. Masyarakat kerap memaafkan dan mengikhlaskan, tak berani melaporkan, dan terakhir memandang pungli dari sisi kepentingan.

Jawa Barat, dalam hal ini, termasuk daerah dengan tingkat pelaporan pungli tertinggi di Indonesia. Setidaknya begitu data lima tahun lalu. Itu bisa dimaknai bahwa praktik pungli tinggi di Tanah Pasundan ini.

pungli adalah sesuatu hal yang diterima atau tidak, menjadi kultur sebagian kita. Maka untuk melawannya dibutuhkan perubahan kultur pula.

Dia hanya bisa dilawan salah satunya dengan cara hidup yang sederhana dan taat aturan. Cara hidup yang tak ingin dipuji. Cara hidup yang tak ingin menonjol sendiri.

Apakah Dedi Mulyadi akan bisa mewujudkan hal-hal semacam itu hanya dalam tiga bulan? Dengan tetap mendukung keinginannya, secara jujur harus kita akui mimpinya terlalu tinggi. Mimpi di awang-awang. (*)


Editor : Zulfirman