Sikap Kami: SPMB Istimewa

JABAR Istimewa. Tapi, jika sistem penerimaan murid baru (SPMB) terkendala “hanya” oleh server, berarti tak ada istimewanya. Apalagi, setidaknya secara kuantitas, lebih buruk dibanding tahun lalu.

Sikap Kami: SPMB Istimewa

JABAR Istimewa. Tapi, jika sistem penerimaan murid baru (SPMB) terkendala “hanya” oleh server, berarti tak ada istimewanya. Apalagi, setidaknya secara kuantitas, lebih buruk dibanding tahun lalu.

Sudah dua hari SPMB 2025 berlangsung. Persoalan yang dihadapi dua hari ini belum teratasi. Selalu ada saat-saat di mana terjadi gangguan server. Para pendaftar tak bisa mengakses laman situs SPMB.

Sebagian siswa bersama orang tuanya bahkan harus mendatangi sekolah tempat mendaftar. Padahal, namanya SPMB online. Mestinya darimana saja bisa. Tapi, itulah soalnya. Tak selamanya bisa mendaftar secara online.

Tak melulu bisa menyalahkan siswa dan orang tua. Secara psikologis, mereka pasti dihantui kegagalan tak bisa melanjutkan pendidikan anaknya hanya gara-gara server down.

Yang kurang masuk akal kita adalah bagaimana mungkin sistem pendaftaran online ini mengalami gangguan server setiap hari. Jelas, ada yang keliru dalam hal itu. Ada kekurangsiapan pihak penyelenggara.

SPMB online ini bukan hal baru. Sebelumnya bernama PPDB online. Namanya saja beda. Sistemnya hampir tak ada beda. Perangkatnya bahkan seharusnya jadi lebih baik dibanding tahun lalu. Setidaknya lebih siap.

Tapi, perbandingkan dengan tahun lalu. Kala itu, hanya sekali server down, di hari pertama. Setelah itu lancar hingga hari terakhir. Kini, baru dua hari saja jalan, persoalan menyangkut server selalu muncul.

Sejatinya, hal-hal semacam ini harusnya sudah diperhitungkan sejak awal. Misalnya, dengan menyiapkan server yang memiliki bandwith lebih besar. Kalau perlu, menyiapkan server cadangan. Sehingga jika ada gangguan, hanya dengan sekali klik saja, persoalan bisa teratasi.

Tapi, rupanya pihak penyelenggara terindikasi kurang banyak belajar dari pengalaman. Karena itu, muncul persoalan-persoalan yang memalukan buat penyelenggara sekaligus merisaukan bagi peserta.

Itulah sebabnya, menghadapi pekerjaan-pekerjaan besar seperti SPMB ini, perlu kesiapan tingkat tinggi. Kalau perlu, kolaborasi. Manfaatkan pentahelix. Agar banyak persoalan yang muncul bisa diselesaikan cepat.

Dalam ilmu pemerintahan modern, juga penyelenggaraan tata kelola pemerintahan, yang dibutuhkan itu bukan superteam, bukan superman. Tak ada orang yang segala bisa. Dia harus bekerja sama. Prinsip kerja sama, salah satunya, adalah tak ada yang merasa paling tahu, paling paham, paling mengerti, paling menguasai.

Ini baru dua hari. Kebiasaannya, pelonjakan pendaftar SPMB terjadi di hari terakhir. Ancaman server down saat itu juga tinggi. Jangan lagi gegabah. Jangan merasa paling bisa sendiri. Harus diantisipasi. Jika tidak, penyelenggara yang bermasalah, bisa pula dikirim ke barak, seperti pelajar bermasalah itu bukan? (*)


Editor : Zulfirman