Sikap Kami: Survei Polisi
ADA satu survei yang ditunggu-tunggu publik saat ini. Bukan soal calon presiden. Tapi ihwal tingkat kepercayaan publik kepada lembaga-lembaga pemerintah. Kira-kira, di manakah posisi Polri saat ini.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
ADA satu survei yang ditunggu-tunggu publik saat ini. Bukan soal calon presiden. Tapi ihwal tingkat kepercayaan publik kepada lembaga-lembaga pemerintah. Kira-kira, di manakah posisi Polri saat ini.
Sayangnya, di saat seperti ini, tak ada yang melakukan survei. Atau, setidaknya belum merilisnya. Atau juga, barangkali belum ada yang memesan.
Tingkat kepercayaan publik terhadap polisi kini menukik tajam. Mungkin mencapai titik nadir terendah sejak era reformasi. Berbagai persoalan dihadapi korp baju cokelat ini.
Sepanjang hari kemarin saja, ada beberapa isu yang mencoreng citra polisi. Selain kasus pembunuhan Brigadir Nofriyansah Yosua Hutabarat yang menyeret segerombolan polisi, juga gerombolan oknum perkara penjualan barang bukti kejahatan sabu-sabu.
Ada pula tragedi Kanjuruhan. Lalu, dugaan keterlibatan oknum dalam penipuan calon siswa Polri di Nusa Tenggara Timur dan vonis tiga tahun untuk mantan Kapolres OKI Timur, AKBP Dalizon dalam kasus pemerasan penanganan dugaan perkara korupsi.
Begitu banyaknya kasus melanda anggota kepolisian sehingga masyarakat sempat menyampaikan pelakunya bukan oknum lagi. Karena sudah terlalu banyak. Harap dicatat, pernyataan publik itu tak lebih dari sekadar kekecewaan terhadap polisi.
Tapi memang, jika saja dakwaan obstruction of justice dalam kasus Yosua terbukti benar adanya, layaklah kalau kepercayaan itu menukik tajam. Perkara itu menunjukkan upaya penegakan hukum yang timpang. Tajam ke bawah, majal ke atas. Cenderung mempermainkan hukum.
Bayangkan, bagaimana persekongkolan terjadi menyembunyikan bukti-bukti kejahatan yang terjadi di rumah Ferdy Sambo. Pencopotan kamera pemantau (CCTV), penciptaan skenario lain, dan sebagainya.
Dalam hal CCTV ini, wajar juga jika publik mengait-ngaitkan dengan peristiwa pembunuhan suhada di KM 50 Jalan Tol Jakarta-Cikampek. Modusnya hampir mirip: CCTV tak berfungsi. Menjadi aneh CCTV di jalan vital seperti itu rusak.
Citra kepolisian makin buram karena masih banyaknya anggota yang mempermainkan hukum. Dari banyak bidang. Dari lalu lintas, kriminal umum, kriminal khusus, bahkan hingga Propam.
Memperbaiki citra polisi menjadi tugas terberat Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Publik kemudian mempertanyakan pernyataannya, tentang memotong kepala ikan yang ekornya rusak.
Sebab, Kapolri bisa juga bingung karena begitu banyak ekor yang rusak. Penunjukan Kapolda Jawa Timur, Irjen Teddy Minahasa yang ternyata jadi tersangka kasus narkoba, adalah salah satu contohnya. Lemah sekali pengawasan yang terjadi sampai seorang jenderal berkasus mendapatkan promosi meskipun ada alasan saat itu belum ada yang tahu dia terlibat penyisihan barang bukti narkoba.
Lalu, kira-kira dimana posisi Polri sebagai lembaga yang dipercaya publik? Tunggu sajalah rilis lembaga survei. (*)
Editor : Zulfirman

