Siomay dan Jalan Pulang ke Sekolah
GEROBAK siomay sempat menjadi tempat Habibi menghabiskan hari. Kini, jalan menuju sekolah kembali terbuka untuknya.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Pagi bagi Habibi bukan lagi tentang seragam dan buku pelajaran. Di usia 12 tahun, dia memilih menemani ibunya berjualan siomay di kawasan Bintaro Sektor 1, Jakarta Selatan.
Keputusan itu lahir dari rasa iba. Sang ayah sakit sekitar setahun dan tak lagi bisa bekerja. Melihat ibunya berjualan seorang diri, Habibi memilih membantu.
“Dia bilang, ‘Saya sendirian jadi kasihan. Ya sudah, Ma, saya mau bantu Mama saja, kasihan Mama sendirian. Nanti gantian jualannya’,” kata ibu Habibi, Wati Susilawati (35), seperti dikutip dari ANTARA, Senin (28/9).
Habibi sebelumnya bersekolah di Cirebon. Saat libur sekolah pada bulan puasa, ia datang ke Jakarta. Sejak itu, hari-harinya diisi dengan membantu sang ibu menjaga dagangan.
Keduanya bergantian berjualan. Habibi berangkat sejak pagi, sementara Wati datang setelah zuhur. Sore hingga malam, giliran mereka kembali berganti hingga sekitar pukul 21.00 WIB.
Sekolah pun tertinggal. Habibi memilih berhenti belajar untuk membantu ibunya melewati masa sulit.
Kisah itu kemudian mendapat perhatian sejumlah pihak. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi turut mendorong agar ayah Habibi menjalani operasi serta menjanjikan bantuan kebutuhan selama proses pengobatan.
Di tengah perhatian tersebut, ada satu hal lain yang kembali mengetuk pintu kehidupan Habibi: sekolah. Habibi diminta kembali melanjutkan pendidikan. Dia pun menyatakan kesediaannya.
“Katanya Habibi harus sekolah. Kata Habibi, ‘Iya, saya mau sekolah lagi’,” ujar Wati.
Harapan itu kemudian mendapat jalan. Suku Dinas Pendidikan Jakarta Selatan menyatakan siap membantu Habibi kembali mengenyam pendidikan melalui Satuan Pendidikan Nonformal Sanggar Kegiatan Belajar (SKB).
“Insya Allah nanti kita bantu masuk PKBM. Kami sudah komunikasi,” kata Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah I Jakarta Selatan Santoso di Jakarta, Senin (28/9).
Santoso mengatakan pihaknya telah berkomunikasi dengan keluarga Habibi. Pendidikan Habibi nantinya dapat dilanjutkan melalui SKB yang menyelenggarakan program pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C.
Rapor Habibi masih berada di sekolah asalnya di Cirebon. Setelah kelengkapan administrasi diperoleh, proses perpindahan ke SKB dapat dilakukan.
“Rapor-nya di Cirebon. Pindah ke SKB, yang biasa disebut sekolah kejar paket (A, B, C), tapi yang negeri,” ucap Santoso. (gin)
Editor : Inilahkoran

