Soal Saham BIJB Kertajati, Komisi III DPRD Jabar Baru Sebatas Paham Kegelisahan Dedi Mulyadi
Ketua Komisi III DPRD Provinsi Jabar Jajang Rohana belum membahas secara utuh rencana Gubernur Dedi Mulyadi melepas saham BIJB Kertajati.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Ketua Komisi III DPRD Provinsi Jawa Barat (Jabar) Jajang Rohana mengaku pihaknya belum mendapatkan informasi lebih jauh dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) mengenai wacana pelepasan saham
BIJB Kertajati.
Jajang Rohana mengatakan pihaknya akan menunggu kabar lanjutan dalam pembahasan pelepasan saham milik Pemprov Jabar di BIJB Kertajati.
Meski demikian Jajang memahami keinginan Gubernur Jabar Dedi Mulyadi yang ingin melepas saham BIJB Kertajati lantaran belum ada hasil yang bisa jadi landasan untuk terus diperjuangkan.
Sehingga keinginan untuk melepas saham di BIJB Kertajati ke pemerintah pusat melalui Angkasa Pura dan ingin ditukar guling dengan Bandara Husein Sastranegara kata dia, menjadi logis.
Walaupun tukar guling ini menurutnya harus dikaji mendalam, karena Bandara Husein merupakan ranah TNI Angkatan Udara.
Belum lagi, kini bandara di tengah Kota Bandung tersebut hanya melayani penerbangan pesawat baling-baling atau propeller.
Selain itu, konsep tukar guling ini menurutnya juga harus dikaji secara cermat, sebab semua lahan di BIJB Kertajati adalah aset Pemprov.
"Menurut saya, harus melakukan kajian seperti apa. Dari sisi hitung-hitungan pemanfaatannya," kata Jajang saat dihubungi INILAHKORAN.ID, Kamis 15 Januari 2026.
Selain itu, dia juga menyoroti dalam pelepasan BIJB Kertajati dan ditukar guling dengan Bandara Husein, harus dinilai dari aspek jangka panjang.
Harapan besar yang sudah ditanam di BIJB Kertajati, yakni menjadi bandara yang melayani penerbangan internasional secara global layaknya Bandara Soekarno-Hatta harus dipertimbangkan.
Bila ditukar dengan Bandara Husein, harus diperhitungkan pula kedepannya akan konsepnya.
"Karen harapannya itu, bisa indirect dari luar. Bukan hanya sekedar luar negeri dari Singapura, Malaysia. Tapi dari negara lain yang jauh," ucapnya.
Dengan kondisi Bandara Husein yang sekarang, sejumlah faktor seperti panjang lintasan terbatas, harus menjadi pertimbangan. Meski diakuinya memungkinkan terjadi perluasan, dengan pembebasan lahan.
"Itu mungkin pertimbangan-pertimbangannya. Satu sisi masyarakat Bandung ingin Husein diaktifkan kembali. Tapi kita sudah punya aset Kertajati yang mana ini juga harus termanfaatkan untuk layanan kebutuhan publik," tandasnya.***
Editor : Bsafaat

