SPPG La Isola Batutulis Janjikan Menu Premium Program MBG
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) La Isola Batutulis berkomitmen menghadirkan makanan berkualitas premium, aman dan bernilai gizi tinggi dalam program MBG.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) La Isola Batutulis berkomitmen menghadirkan makanan berkualitas premium, aman dan bernilai gizi tinggi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Langkah ini dilakukan guna mendukung keberhasilan program pemerintah dalam membangun generasi sehat menuju Indonesia Emas 2045.
Legal SPPG La Isola Batutulis, Agus Murianto menuturkan, bahwa penilaian terhadap menu MBG tidak bisa semata-mata dilihat dari besar kecilnya porsi. Ia berpendapat, bahwa aspek kualitas bahan, kandungan gizi serta keamanan pangan justru menjadi indikator utama.
"Jadi tidak bisa diukur itu hanya dari besar atau kecilnya. Kalau rotinya besar tapi keras dan mengandung bahan pengawet, ya kami tidak mau. Produk kami semuanya fresh. Hari ini dibuat, besok dikirim. Kualitasnya premium semua," tutur Agus kepada wartawan di Perumahan Pakuan II, Kelurahan Pakuan pada Senin 2 Maret 2026 malam.
Agus menerangkan, pihaknya tidak berorientasi pada keuntungan, melainkan fokus menyukseskan program strategis pemerintah pusat ini.
"Orientasi kami bukan mengejar profit, tapi bagaimana menyukseskan program pemerintah yang baik ini," terangnya.
Agus memaparkan, selama bulan Ramadan, SPPG La Isola Batutulis menyajikan menu kering sesuai arahan Badan Gizi Nasional (BGN). Karena makanan matang hanya mampu bertahan maksimal tujuh jam, sehingga menu kering dipilih demi menjaga mutu dan keamanan konsumsi.
"Sesuai arahan dari BGN, kami menggunakan makanan kering. Tapi kering yang kami sajikan tetap kualitas premium. Sempat ada keluhan sebagian orang tua terkait ukuran menu, persepsi tersebut sering kali berangkat dari sisi kuantitas semata, bukan nilai gizi. Kalau soal gizi itu kan ada ahlinya, yaitu ahli gizi. Kadang orang tua melihatnya hanya besar dan kecil. Tapi di kami, sampai hari ini, yang diberikan adalah kualitas terbaik," paparnya.
Agus menjelaskan, pihaknya membuka ruang kritik dan saran dari masyarakat. Pihaknya rutin melakukan pengecekan kebersihan dapur dan kualitas produksi, bahkan diluar jam kerja.
"Kalau ada kritik, kami selalu terima. Saya cek langsung, jam berapa pun saya buka handphone. Saya pastikan kebersihan dan kualitas sebelum tim pulang. Untuk skema anggaran MBG, yakni Rp8.000 per porsi untuk siswa SD kelas kecil dan Rp10.000 untuk dewasa. Menurutnya, menu kering kerap terlihat sederhana, namun memiliki nilai ekonomi dan gizi yang tinggi. Snack atau makanan kering itu harganya mahal. Kelihatannya kecil, tapi nilainya besar. Contohnya satu susu bisa Rp6.000. Jadi tantangannya itu pemahaman masyarakat," jelas Agus.
Agus membeberkan, berbeda dengan beberapa SPPG lain yang menerapkan sistem rapel, SPPG La Isola Batutulis memastikan distribusi makanan dilakukan setiap hari.
"Kalau di kami tidak dirapel. Setiap hari rutin, dan semuanya fresh, boleh dicek. Dalam penentuan menu, peran utama berada di tangan ahli gizi. Tetapi, tetap melakukan pengawasan dan evaluasi agar standar kualitas tetap terjaga. Kami intervensi untuk memastikan bahan-bahan premium digunakan. Contohnya roti, kami pakai standar Holland Bakery, tanpa bahan pengawet. Kurma juga kami pilih yang premium," beber Agus.
Agus memaparkan, saat ini, SPPG La Isola Batutulis mengelola tiga dapur yang masing-masing melayani sekitar 2.000 penerima manfaat. Total tenaga kerja yang terserap mencapai sekitar 150 orang.
"Tujuan kami bukan hanya mencari untung, tapi mencari berkah dan kualitas. Masa anak-anak yang disiapkan untuk Indonesia Emas kami beri makanan yang tidak bergizi," pungkasnya. ***
Editor : JakaPermana

