Sampah Diduga Sisa MBG Dibuang ke Sungai di Bandung, Warga Keluhkan Bau Busuk

Tumpukan sampah berisi sisa makanan diduga dari program MBG ditemukan di tepi sungai kawasan PTPN VIII Bukit Unggul, Cilengkrang, Kabupaten Bandung.

Sampah Diduga Sisa MBG Dibuang ke Sungai di Bandung, Warga Keluhkan Bau Busuk
Tumpukan sisa makanan diduga dari program Makan Bergizi Gratis ditemukan di tepi sungai Desa Cipanjalu, Kabupaten Bandung.

INILAHKORAN.ID-Tumpukan sampah berisi sisa makanan yang diduga berasal dari program makan bergizi gratis (MBG) ditemukan dibuang di kawasan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII Bukit Unggul, Desa Cipanjalu, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung.

Sampah tersebut ditemukan di tepi aliran sungai tak jauh dari Jembatan Cibodas. Tumpukan kantong plastik berisi sisa nasi, lauk-pauk dan makanan lainnya itu diduga telah membusuk hingga menimbulkan bau menyengat yang tercium sampai ke jalan raya.

Kasus tersebut mencuat setelah akun TikTok @mansurkadarusman mengunggah video yang memperlihatkan kondisi tumpukan sampah di lokasi. Dalam rekaman itu, terlihat sejumlah kantong plastik berisi sisa makanan yang dikerubungi lalat.

Warga yang merekam video tersebut menduga sampah sengaja dibuang pada malam hari menggunakan kendaraan. Lokasi pembuangan yang cukup terpencil dan jauh dari permukiman membuat aktivitas tersebut sulit terpantau.

"Kejadian lagi, ada yang membuang sampah MBG ke sungai. Ini sisa-sisa nasi, lauk-pauk, semuanya dibuang ke sini, bagaimana mau terurai. Baunya menyengat seperti ini, untung saya pakai masker," ujar warga dalam video tersebut.

Warga Minta Asal sampah MBG Ditelusuri

Warga mendesak pemerintah daerah dan pihak pengelola perkebunan segera menelusuri asal tumpukan sampah tersebut. Hal itu diperlukan untuk memastikan apakah sampah benar berasal dari salah satu dapur penyedia program MBG.

Masyarakat juga meminta pengawasan diperketat, terutama terhadap kendaraan yang masuk ke kawasan tersebut pada malam hari.

Pasalnya, pembuangan sampah ke aliran sungai berpotensi menimbulkan dampak lingkungan. Selain mencemari air, sampah organik yang membusuk juga dapat mengganggu ekosistem serta menimbulkan risiko kesehatan bagi masyarakat.

Warga menilai sisa makanan dari program MBG sebenarnya masih dapat dikelola sehingga tidak berakhir menjadi sampah.

Sisa makanan yang layak dan aman, misalnya, dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau diolah melalui sistem pengelolaan sampah organik. Dengan demikian, limbah makanan tidak perlu dibuang sembarangan ke sungai.

"Padahal sisa makanan sebenarnya masih dapat dimanfaatkan, misalnya sebagai pakan ikan, lele, entok, maupun ayam, sehingga tidak harus dibuang sembarangan ke sungai," lanjut warga.

Sudah Dua Minggu Menimbulkan Bau

Seorang warga setempat, Ayi, membenarkan keberadaan tumpukan sampah tersebut. Menurutnya, bau busuk dari lokasi sudah tercium sejak sekitar dua minggu terakhir.

Lokasi pembuangan yang jauh dari permukiman warga diduga menjadi salah satu alasan tempat tersebut dipilih. Namun, bau busuk tetap terbawa angin hingga ke jalan raya yang menjadi akses menuju kawasan Palintang dan Cibodas.

"Dua minggu lalu baunya sangat menyengat sampai ke jalan. Kalau dari Bandung terlalu jauh ke sini. Mungkin dari dapur MBG yang lebih dekat, tapi kami tidak tahu pasti dari mana," kata Ayi, Senin (24/8/2026).

Ayi menegaskan, warga belum dapat memastikan pihak yang membuang sampah maupun asal dapur penyedia MBG yang diduga menghasilkan limbah tersebut.

Karena itu, ia meminta adanya pemeriksaan dan penelusuran agar persoalan tersebut tidak hanya berhenti pada dugaan.

Soroti Makanan MBG yang Terbuang

Selain persoalan pencemaran lingkungan, warga juga menyoroti banyaknya sisa makanan yang ditemukan di lokasi.

Menurut Ayi, kondisi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi dalam pelaksanaan program MBG, terutama terkait porsi dan menu makanan yang diberikan kepada penerima manfaat.

Ia khawatir makanan yang tidak habis justru menjadi beban lingkungan apabila tidak memiliki sistem pengelolaan limbah yang baik.

"Daripada makanan menumpuk dan terbuang seperti ini, lebih baik programnya dihentikan. Alihkan anggarannya untuk kebutuhan pangan masyarakat kecil," tegas Ayi.

Meski demikian, dugaan bahwa tumpukan sampah tersebut berasal dari program MBG masih perlu dibuktikan melalui penelusuran pihak berwenang. Pemeriksaan di lapangan diperlukan untuk memastikan sumber sampah serta pihak yang bertanggung jawab atas pembuangan tersebut.***


Editor : JakaPermana